The Beginning of Miracle

Pagi itu, tepat jam 5.10 tanggal 16 Juni 2017. saya menyaksikan salah satu keajaiban Alloh. Anak kecil itupun mengucapkan tangisnya pertama kali ke dunia. Saya masih belum percaya dia lahir sambil gak henti-hentinya saya bersyukur atas seluruh proses persalinan yang luar biasa hebat…

 

DSC05762

Anak Lanang – Erlang Alfath Ramadhan

 

Selasa tanggal 13 Juni 2017, saya terpaksa mengabarkan kepada istri saya kalau cuti saya harus di-reschedule. The stupid thing was, karena saya tidak membaca aturan dengan baik dan benar. Aturan perusahaan membolehkan hanya cuti 2 hari menemani istri melahirkan tetapi ternyata saya kiranya 3 hari. Walhasil cuti saya pun dimulai pada Kamis 15 Juni dan akhirnya cuti saya pun dimulai pada Kamis 15 Juni 2017. Saya menambahkan sampai dengan Rabu depan dengan mengambil cuti besar saya.

Saya kemudian tiba di Jember, Kamis siang sekitar jam 11an. Lagi-lagi enaknya bayar ojek yang saya naiki dari stasiun, Ibu saya (mertua red) memanggil saya dari dalam rumah untuk segera masuk. Dasarnya saya tipe orang santai, maka sayapun juga santai pun masuk rumah. Lagi santainya masuk rumah, di dalam rumah sudah kayak tergopoh-gopoh. Ibu saya mengabari ketuban istri saya udah pecah dan udah merembes sampai ke lantai rumah.

Gak pakai lama, bersama Bapak, kami langsung ke UGD di RS Jember Klinik. Untungnya sebelum proses sampai ketuban pecah ini, seluruh baju-baju baik istri saya maupun untuk anak lanang sudah kami siapkan jauh-jauh hari sebelum HPL. Hasil cek kandungan terakhir harusnya HPL-nya hari Sabtu. Ini mungkin si anak lanang mau ngasih kejutan ke ayahnya kali. Sampai di rumah sakit, langsung masuk ke UGD dan diperiksa ternyata masih bukaan 0. Menurut bidan yang periksa di UGD, ini baiknya ditunggu sampai 24 jam ke depan dan Bidan menyarankan supaya untuk Rawat Inap dan setelah dikonsultasikan dengan dokter kandungan yang biasanya.

Di dalam kamar, kami berdua gak henti-hentinya mengelus perut istri saya, sambil mensugesti diri sama-sama adek supaya untuk bisa lahiran normal. Gak ketinggalan saya pun juga minta doa dari seluruh teman-teman untuk mendoakan supaya dimudahkan persalinannnya. Oiya RS Jember Klinik termasuk salah satu RS yang sangat pro kelahiran Normal dan mendorong untuk dilakukan IMD dan termasuk yang mendorong untuk memberikan ASI. Sufor boleh tetapi dalam keadaan yang sangat urgent dimana membahayakan kondisi bayi.

Sambil menunggu dokter, yang baru bisa visit jam 11 Malem -karena dokternya harus praktek disana disini- maka dari siang sampai dengan visit, saya rutin membacakan ayat Quran sambil terus mengajak istri saya Istighfar memohon kemudahan dalam persalinan istri saya. Sambil itu bapak/ibu mertua saya bolak balik RS – Rumah yang untungnya dekat mengambil semua peralatan tempur untuk mendukung persalinan.

Sore itu,

Tiba-tiba istri saya mengejan kuat, saya yang disampingnya digenggam erat sampai dicakar?. Kemudian hilang dengan sendirinya tiap 15 menit sampai begitu terus intervalnya dan lama kelamaan makin cepat. Dari diskusi dengan teman-teman hal seperti ini yang dinamakan kontraksi palsu, nanti pada akhirnya interval itu akan makin pendek dan memulai proses pembukaan.

Keadaan ini terus terjadi, setelah proses kontraksi palsu, istri saya tertidur kemudian bangun lali kemudian seperti itu lagi. hingga akhirnya gak sempat makan malam dan kemudian tertidur.

Malam itu.

Jam 11 dokter kandungan istri saya, Dokter Budi datang, Bagi saya ini first met dengan beliau karena emang waktu istri saya periksa dokternya hanya available di hari Rabu pagi. Kesan pertama dokternya ini humble dan cukup jauh dari kata tegang.

Setelah mengecek hasil dari UGD tadi, dokter menawarkan 2 pilihan kepada kami, mau di Induksi atau ditunggu sampai 24 jam setelah ketuban pecah. Dokter menyarankan sebaiknya di-induksi dengan mempertimbangkan karena masih bukaan 0 dan mash jauh dari waktu bersalin normal. Kalaupun setelah 24 Jam tidak ada hasil apa2 akan coba tetap dipacu (Induksi).

Dokter meninggalkan kami, dan membiarkan kami mendiskusikan berdua. Di ruangan itu tidak ada orang tua kami. Kedua mertua saya sedang ke rumah sebentar untuk ambil peralatan persiapan.

Kami putuskan malam itu untuk di-Induksi, Mempertimbangkan segala hal termasuk kesehatan istri saya yang masih belum bukaan sama sekali dan toh cepat atau lambat bilamana dalam 24 Jam belum ada reaksi akan tetap diinduksi juga. Malam itu pula istri saya masuk kamar bersalin sekitar jam setengah 12. Leganya keputusan itu kami ambil berdua sendiri temasuk saya yang memantapkan diri menemani dalam Ruang Bersalin.

Proses Persalinan..

Di dalam Ruang Bersalin, gak ubahnya ya seperti kamar Rawat Inap biasa. Hanya ada kasur yang lebih tinggi. Tepat di depan istri saya telah disiapkan peralatan untuk jahit menjahit atau mungkin peralatan operasi caesar?. Perasaan saya campur aduk untuk terus menguatkan bahwa proses ini akan berjalan lahiran Normal. Gak lama kemudian istri saya disuntik melalui infus dan kemudian dipasang Heart Rate monitor. Jam 12 tepa dimulai dan kami berdua mengucapkan Bismillah semoga lahiran lancar.

Kalau ada perasaan yang menggambarkan bagaimana situasi di Ruang Bersalin, saya menyebutnya istri saya adalah wanita terhebat yang pernah di sisi saya bersama ibu saya. Dalam proses bersalin itu enggak henti-hentinya sejak dari jam 12 malam, istri saya mengejan luar biasa. Muka istri saya menggambarkan betapa tersiksanya menahan sakit yang luar biasa akibat dipacu untuk proses pembukaan

Hampir gak ada yang bisa saya lakukan kecuali terus membesarka hatinya untuk tetap semangat dan sabar demi anak lanang. Menyuruhnya untuk menahan sakit adalah kebodohan luar biasa. Bisa dibayangin setiap 10 menit, 7 menit menahan sakit 3 menit istirahat selama 5 jam bro!. Istri saya adalah WANITA JUARA YANG PERNAH ADA. Gitu terus setiap 10 menit, dan begitu pula istri saya memohon untuk pindah dengan lahiran operasi caesar saking gak kuatnya menahan kontraksi.

Tiap kali memohon untuk caesar, tiap kali pula iman saya melemah dan gak tega melihat istri saya menahan sakit. Berulang kali pula saya memanggil bidan. Bidan pun tahu sakitnya seperti apa diinduksi dan setiap kali cek datang cuma bilang “Gak Papa, Ibu yang sabar ya”….. dan dalam hati gila nih, orang sesakit ini cuma dibilang sabar? Pada akhirnya saya tahu, memang Bidan seperti itu, agar Ibu-nya berjuang dengan pilihannya dan menyelesaikan sendiri proses persalinannya.

Jam 2 Pagi, saya coba manggil bidan supaya mengecek apa sudah ada hasil dari Induksi. Bidan pun memeriksa, alhamdulillah sudah mulai bukaan 3. Saya pikir pun mestinya gak lama lagi dan setelah masuk pembukaan 5 ke atas malah lebih cepat. Dan malam itu menjadi saksi betapa memang pahala syuhada bagi Istri yang gugur dalam melahirkan itu menjadi balasan yang setimpal. Malam itu pula saya menyaksikan betapa luar biasanya seorang ibu melahirkan anaknya. Saya mengambil jalan harus diselesaikan dengan normal, sambil terus berdoa dan membesarkan istri saya pasti bisa melalui proses ini.

Jam 4an Pagi, saya memanggil lagi Bidan, Bidan bilang ini sudah lengkap sampai dengan Pembukaan 8. Bidan bilang ke kami sedang coba kontak ke Dokter Budi untuk persiapan proses Persalinan. Alhamdulillah, gak ada yang bisa kami ucapkan selain terima kasih karena proses yang luar biasa ini bisa kami lewati tinggal sedikit lagi. Istri saya tersenyum dan bahagia luar biasa dengan keadaan ini. Tak ketinggalan bapak ibu mertua yang sudah menanti diluar menunggu. Sesekali saya hanya digantikan ketika hanya makan/pipis atau sholat sejenak.

Kurang lebih jam 4.45, Dokter Budi datang dan menyiapkan segala sesuatunya. Saya bisa melihat ada hitam-hitam tanda anak kecil sudah siap hadir di dunia. Ya itu rambutnya udah nampak. Dokter pun melihat, jalan keluar si bayi terlalu kecil dan dokter menawarkan untuk menggunting untuk melebarkan jalan keluarnya. Namun ternyata teknis nafas yang digunakan istri saya keliru, harusnya tarik nafas 3x secara bertahap kemudian dikeluarkan namun istri saya tiap kali tarik nafas langsung dikeluarkan. Hal ini ternyata mengakibatkan tenaga untuk kontraksi menjadi setengah-setengah. Padahal teknik ini pernah diajarkan pada senam hamil. Walhasil karena seperti ini, jalan keluar anak kecil robek dengan sendirinya.

Dan setelah kepala itu nongol.. Dokter langsung menariknya. Tangisan pertama dari anak kecil pun pecah. Jam 5.10 anak lanang kami lahir. Kami berdua akhirnya punya versi 2.0 dari kami. JUARAAA! Alhamdulillah. proses 5 jam Induksi itupun berakhir.

Eggak ada kata-kata di buku manapun yang menggambarkan bagaimana bahagiannya ketika bayi lahir. Dan kami namai anak kami. Erlang Alfath Ramadhan. Yang artinya Pembuka yang penuh Bijaksana dan Keberkahan yang lahir di Bulan Ramadhan.

Hari itu saya, dan kami berdua menjadi saksi pemandangan terbaik di muka bumi, menyaksikan keajaiban putra kami lahir secara normal, menyaksikan pula betapa perjuangan seorang Ibu yang melahirkan memang luar biasa. Hari itu pula perjalanan tentang keajaiban kami dimulai.

 

Special thanks to Mama di Surabaya, yang saya tahu dalam malam itu tidak tidur untuk mendoakan cucu ke 4 nya lahir dengan lancar tanpa kendala.

Special thanks to Bapak Ibu mertua yang sudah menemani kami berdua untuk meringankan tugas kami selama melahirkan.

Teruntuk juga untuk kerabat dan teman-teman, yang telah mendoakan yang terbaik dan memberikan kemudahan. Semua doa-doa baik yang akhirnya mengetuk pintu surga untuk diberikan jalan kemudahan.

 

 

 

 

Advertisements

8 responses to “The Beginning of Miracle

  1. MashaaAllah.. selamat, Om. Barakallah. Di Jember juga toh kemarin. Semoga adek alfath mampu menjadi qurrota a’yun, shalehah, sehat wal’afiat..

  2. Barrakallah… Selamat mas Angga dan keluarga..
    Apikk jenenge… top tenan..

    Semoga kehadiran Erlang semakin menambah keberkahan buat keluaga sekalian…

    Selamat menikmati perjalanan sebagai ortu :d

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s