[Traveling] Escape from civilization : Ujung Genteng [1]

Liburan kali ini idenya memang dadakan, tanpa perencanaan dan tanpa persiapan apapun. Ide ini pertama kali dateng ketika melihat kalender di meja kantor ada yang berwarna merah 3 berurutan lagi!. See, kalender 2012 sepertinya berbaik hati kepada kita kita yang berwajah orang kantoran dan sepertinya tanda-tanda bau amis liburan memang sudah tercium jarak jauh. Haha.

Kalau biasanya taun lalu saya pasti pulang ke Surabaya, maka edisi kali ini adalah berlibur!, dan edisinya kali ini adalah Escape from Civilization!, ya jauh dari hingar bingar kota, jauh dari pekerjaan, jauh dari telepon+imel gangguan, dan liburan kali ini harus bener-bener quality-nya terasa dan otak saya yang pertama kali bisa diajak berlibur adalah Taurisa Wijaya!, haha. SMS-nya sederhana sih, “Tau, liburan imlek ke Ujung Genteng yuk!“, jawabnya, “Berangkat gan!” dan saya tahu Taurisa memang bisa diandalkan untuk berlibur edisi cepat hehe

Setelah mengadakan pengumuman sana-sini, dengan cara sebar BBM, YM  , sebar di Facebook , Mailing List dan groups yang ada sangkat pautnya, maka didapatkan 4 pemuda andalan bangsa dan negara dan rasanya nggak jauh-jauh ya dari yang namanya NusantaraView. -_-“

M Nur Taufix , Kiki Ahmadi , Taurisa Wijaya dan Perusuh Huru Hara!

Susahnya kalau nggak ada cewek adalah nggak ada yang ngatur keuangan tapi ada satu orang yang merelakan dirinya untuk menjadi bendahara liburan kali ini yaitu Taurisa sedangkan saya dan Taufix menjadi driver, *oh shit* dan Kiki Ahmadi hanya menjadi penikmat perjalanan *sampah deh*. Kami ber4 sepakat untuk menyewa mobil yang sudah dikordinir oleh Taurisa. Oh ya eniwei saya harus ke Jakarta dulu waktu itu, ya sudah gapapa itung-itung sekalian jalan-jalan ke Jakarta walaupun cuma sesaat and here we go the story. Oh eniwei kalau ada pada yang belum tahu dimana Ujung Genteng itu berada, ini ada petanya nih

Posisi Ujung Genteng

Jauh juga ya ternyata, kemarin estimasi nyampai di Ujung Genteng adalah pukul 05.30 sore jadi pas dapat sunsetnya dengan berangkat sekitar pukul 10.00 keluar dari Jakarta dan pakai berhenti-henti jadi hampir 8 jam perjalanan dengan berhenti untuk makan dan isi perbekalan di minimarket daerah Surade.

Ada 2 jalan untuk menuju ke Surade bisa melalui Pelabuhan Ratu atau Jampang Kulon yang hampir dekat Sukabumi dan dua-duanya hampir memakan waktu yang sama. Dengan melalui Pelabuhan Ratu jalannya relatif sepi dan bisa lebih cepat dan sepanjang perjalanan bakalan banyak disuguhin pemandangan kebun kelapa sawit dan kebun teh mendekati Pelabuhan Ratu. Oh ya kami ambil jalan ini untuk perjalanan keberangkatannya.

Kebun Kelapa Sawit

Sumpah perjalanan kali ini bikin bokong pegel dan punggung encok semua kalau dihitung-hitung ini sih bisa sampai Surabaya kalau berangkat dari Semarang. Sepanjang perjalanan yang kami keluhkan adalah jalan tersebut tidak pernah berujung dan tidak bercabang, bercabang-cabang ketika mulai masuk Pelabuhan Ratu dan setelah itu nanti akan ketemu pertemuan jalan dari arah Jampang Kulon untuk selanjutnya menuju ke Surade. Dari Surade kami harus ngebut untuk mengejar Sunset, sayang banget kalau udah di pantai nggak dapat Sunset dan akhirnya kami tiba juga di…

Welcome to the club boys!

Tiket masuknya kemarin habis sekitar 37.000 dengan estimasi 4 orang dan 1 mobil, ya lumayan murah sih. Eh jangan salah setelah dari pintu ini, pantainya masih jauh lagi bro dan sist, ada sekitar 5-10 kiloan menuju pantai tapi tenang bau-bau pantai sudah menyambut disini dengan nuansa pohon kelapa di sekitaran perjalananmu maka kamu pasti tahu itu sudah dekat pantai! *apasih.

Taufix mengambil alih perjalanan ini dengan langsung tancap kecepatan tinggi ala supir angkot, hari keburu sore dan kami mengejar sunset di pantai. Voila, akhirnya kebagian sunset juga di Ujung Genteng!

Sunset Ujung Genteng

Barisan Perahu

Kedua poto di atas diambil di dekat tempat sandaran perahu jadi kalau pagi bakalan banyak perahu yang lebih datang dari laut dan tempat ini jadilah pasar pelelangan ikan. Infonya ada sekitar 500 perahu yang bergerak dari Ujung Genteng, cukup banyak yaa dan yang jadi pesaing dari tempat ini adalah Pantai Pengandaran dan Pelabuhan Ratu.

Nelayan yang ada disini biasanya bisa melau sampai ke Bengkulu, wow jauh ya! dan masih menggunakan perangkat-perangkat tradisional seperti rasi bintang di langit, induk gelombang laut dan yang jadi andalan kalau pagi adalah barisan bukit di belakang Pelabuhan Ratu dan cukup melihat ke arah timur! Salute!

FYI, info yang saya dapat dari dapat local people, dulu waktu ada gempa yang menghempaskan Pantai Pangandaran dan Jogja, Ujung Genteng tidak terkena imbasnya padahal secara logika Ujung Genteng masih termasuk dalam area rangkaian patahan dan Cincin Gunung berapi yang artinya masih rawan. Herannya, ombak disini nggak terlalu buas seperti yang ada di Pantai Parangtritis loh.

Jelas kami nggak boleh ketinggalan pajang poto!

Edisi Penggembala Gembira

Awalnya kami kecewa karena ternyata Ujung Genteng pantainya hanya begini doang, maksudnya hanya pantai dengan perahu. Namun setelah kami telusuri lurus lagi dan meski hari sudah menjelang malam, kami mendapati spot yang lebih bagus lagi. Pasirnya empuk dan masih pure guys! Hampir tidak ada sampah-sampah yang berkeliaran di pantai, yang ada hanya batu-batu karang kecil-kecil bagus.

Seneng ya om?

Phoenic goes to south!

Hari menjelang malam, yang ada kami malah kebingungan karena kami nggak pesan penginapan lebih dulu dan alhasil kami melintas ditengah malam gelap gulita mencari penginapan…….

to be continued..

Advertisements

3 responses to “[Traveling] Escape from civilization : Ujung Genteng [1]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s