[Hiking] Gunung Bromo – First Adventure [2]

Selepas mengistirahatkan motor, kami bergegas melanjutkan perjalanan kembali. Karena sudah malam, dan motor tampaknya sudah nggak kuat untuk naik ke atas, kami bergegas untuk mencari penginapan di sekitar pintu masuk kawasan wisata Gunung Bromo. Penginapannya murah sih untuk 1 hari 1 malam, harga yang kami dapat sekitar 200ribu untuk 2 bed + kamar mandi dengan air hangat. Kebetulan pas waktu itu penginapannya belum terlalu ramai dan malam yang panjang dingin menidurkan kami setelah makan malam di warung depan penginapan.

perusuh penginapan datang!

Jam 3 pagi kami bangun untuk segera Summit Attack ke Gunung Bromo. Hanya aku yang mandi, yang lain hanya pada sibuk mengeluh kedinginan. Hahaha, ya kan lumayan dapat air hangat juga di penginapan jadi sekalian digunakan untuk mandi kan? hehe. Membawa bekal seadannya, kami tancapkan kembali motor kami menuju pintu masuk Gunung Bromo dan ditengah perjalanan, kami (tepatnya saya dan Hatta), motornya kembali mengalami mogok, oh shit! , untungya mogok cuma sebentar karena motor Hatta sepertinya ngos-ngosan manja minta didorong lagi hanya untuk melewati tanjakan 15 meter!.

Sesampainya kami didepan, seseorang langsung menawari jasa penitipan sepeda motor, oke kami sepakat dengan harga 5 ribu per motor kami titipkan. Maklum hari sudah semakin terang, khawatir kami tidak kebagian sunrise di puncak. Untuk menuju ke lautan pasir Gunung Bromo, pengunjung harus menuruni bukit yang lumayan panjang dengan kemiringan hampir 45 derajat, karena Gunung Bromo pada dasarnya sudah rame jadi kebetulan waktu itu banyak lampu senter berkeliaran. hehehe

Juru Kunci Gunung Bromo

Here the stupid story……………….

Kami semua mengira, penanjakan adalah semacam tangga untuk menuju ke Puncak Bromo. Okay, we admitted that we were so stupid, kami semua minim informasi tentang puncak bromo dan segala macam tetek bengeknya. Di perjalanan, kami bertemu dan menemui ibu-ibu, so here the short dialog between me dan the old woman

Saya : “Bu kalau mau ke penanjakan kemana ya?”

Ibu : “Oh itu mas, mas lurus aja nanti ketemu ada mobil-mobil sport nanti masih lurus terus aja”

Saya : “Oh begitu, Ibu mau kemana?”

Ibu : “Mau ke puncak Bromo mas”

Saya : “Oh begitu, terima kasih ya bu”

Dalam hati saya geleng-geleng ini orang mau ke puncak bromo koq beda arah sama saya ya, Bukannya harus melewati penanjakan dulu? *dan terlihat makin jelas stupid kami*.

Berjalanlah kami lurus mengikuti saran ibu tersebut. Lurus, lurus lurus dan makin nggak ada orang #krik dan pada saat tersebut kami menyadari sepertinya makin salah orang #galau. Akhirnya kami bertemu para driver mobil sport jip yang biasa untuk mengantar keliling wisata gunung bromo. Bertanyalah kami..

Saya : “Pak kalau mau ke penanjakan lewatnya mana ya?”

Driver : “La itu mas di atas, jauh mas itu harus keluar dari lautan pasir baru bisa ke atas”

Saya : “Lho, penanjakan itu bukannya tangganya bromo ya pak?”

Driver : “Ya bukan mas, penanjakan itu gunung lagi mas”

Saya :   (dalam hati) *setel lagu mengheningkan cipta*

Hatta : “kalau mau ke gunung bromo ke mana pak?”

Driver : “Salah arah mas, mas ke arah sana saja” *sambil menunjuk ke arah ibu yang sempat dialog bersama saya*

Berempat :  *terlihat seperti orang tolol*

Gak pake lama, kami langsung lari menembus pasir. Maklum hari sudah semakin terang kawatir kami gak kebagian spot untuk sunrise. Dalam pelarian menuju puncak Bromo sepintas kami melihat pura dan kami semua baru mengerti kalau ada pura di tengah lautan pasir tapi kami nggak ambil pusing yang penting kami harus segera sampai. Fortunately Tuhan masih bersama kami. Pas setengah 6 kami sudah di kaki gunung Bromo, Husni kemudian mengajak shalat subuh berjamaah dan Husni jadilah imam dan memang sepertinya kesialan kami belum berakhir.

Karena terburu-buru untuk mengejar puncak, selepas shalat subuh dengan menggelar jaket kami langsung naik ke atas menuju puncak Bromo dan pada saat di atas itulah tas glend hilang. Oh shit! . Glend, memang kamu sepertinya harus diruwat terlebih dahulu. Kamu dan Hatta memang diceburin ke Puncak Bromo biar sialnya pada hilang. Hahaha *becanda guys*. FYI, jumlah anak tangga di lereng Gunung Bromo ada sekitar 250, karena kita harus naik turun untuk mencari tas Glend kami nggak hanya naik sekali, tapi 2 kali! #lebay

Eniwei ini adalah foto-foto waktu kita ada di puncak Bromo, enjoy!

Gunung Batok

Tangga Gunung Bromo edisi terang!

the sunrise!

the sunrise!

Backgroundnya bagus ya?

Karena pengen gaul dan terlihat serasa satu etnis, awalnya saya melontarkan ide gmana kalau kita foto-foto bersama bule?. Temen-temen setuju, sayangnya nggak ada yang berani ngomong untuk minta foto bareng! *cupu banged* Hatta akhirnya mengajukan sebagai relawan sukarela untuk meminta tolong foto bareng bule dan akhirnya jadilah foto ini. Oh ya bule-nya dari Belgia *nggak penting

edisi gaul bareng bule

Hatta bareng bule

Ini adalah pengalaman adventure pertama saya, meski banyak sial dan kejadian bodoh. Eniwei seru banget tapi. Hahaha kadang-kadang kalau kami bertemu berempat, kami membicarakan ini lagi dan yang paling ingat adalah kejadian tas Glend hilang.

Back in the Shadow

Wanna be adventure, so here’s the short advice for you

short advice for adventurer

Gunung Bromo far seen

Thank you Bromo, soon I promise I’ll come back for you 🙂

Advertisements

7 responses to “[Hiking] Gunung Bromo – First Adventure [2]

  1. Never ending story…

    for the first time… going far for having fun stupidly 😀

    thank you maass sdh mau di rewind di sini ceritanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s