[Story] Harga dibalik setiap perjuangan. [2]

Semester 4 pun dimulai, Tekad saya benar-benar baru ketka perkuliahan dimulai. Saya mulai mengurangi kebiasaaan saya. Jam malam saya berlakukan sendiri. Saya mengurangi main game DoTA. Kalau dulu bisa semalaman penuh maka sekarang dikurangi menjadi 2 jam dan 1 round game maka sisanya mengerjakan tugas dan membaca-baca materi kuliah. Awalnya pahit dan godaan makin menjadi-jadi oleh senior yang biasanya kekurangan player untuk main game. Sesekali iman tergoda dan melenceng tapi saya memang bertekad ini nggak boleh terusan.

Tuhan memang tahu di balik setiap ambisi dan tekad baik seseorang. Semester 4 adalah masa jaya-jayanya ketika FP mulai menjamur dalam setiap tugas. Desain Basis Data, Analisa Proses Bisnis, Struktur Data dan Rekayasa Perangkat Lunak semua meminta waktu untuk dikerjakan secara simultan di akhir waktu. Masa-masa itu, adalah waktu yang baik untuk perbaikan diri. Kenapa? karena banyak tugas yang meminta bekerja secara kelompok, akhirnya banyak yang melembur di Lab, di RK sampai di pelataran depan Lab.

Semua berjibaku untuk menghadapi FP ini dan alhamdulillah momen ini saya bisa manfaatkan dengan baik dan Tuhan mengganjar akhir dari semester ini dengan prestasi yang baik. IPS saya menjadi 3 koma sekian, meski IPK masih di seputaran angka 2 tapi setidaknya ini menjadi motivasi yang bagus bukan untuk semester berikutnya. Hehehe.

Awal semester 5

Tawaran menjadi SC Manage 2007 datang. Saya ragu untuk mengambilnya karena saya masih trauma itu akan membebani perkuliahan saya nantinya. Di sisi lain, saya juga kasihan dengan Bramantyo Ageng yang kebetulan menjabat Ka Departemen PSDM karena kesusahan mencari SC. Tawaran menjadi SC sudah dilempar ke semua rekan-rekan yang potensial tapi kebanyakan mereka menolak halus. Kebetulan berbekal pengalaman menjadi K-OC adalah poin plus, saya ragu tapi Bram dan rekan-rekan yang sudah ada terus meyakinkan saya. Ya sudah, saya anggap ini pengabdian saya yang terakhir di KMSI. Tawaran itu saya terima.

Tuhan memang sepenuhnya mendukung apa yang saya lakukan.

Menjadi SC yang saya rasakan bukan membebani, saya mulai belajar membagi waktu antara kuliah dan organisasi. Saya belajar membalance-kan diri saya bahwa waktunya rapat SC ya rapat dan waktunya mengerjakan tugas ya mengerjaka tugas. Menjadi SC, saya juga belajar sharing pengetahuan bersama khususnya mata kuliah yang belum saya mengerti. Kalau rapat SC sudah selesai, biasanya yang dibahas adalah tugas perkuliahan, dan momen ini menjadikan saya lebih banyak mendapatkan ilmu yang nggak bisa saya belajar sendiri.

M Nur Taufix

Nela - Taurisa

Menjadi SC juga saya belajar memimpin forum di depan maba 2007. Saya yang dulunya nggak terbiasa speech di depan publik karena sering nervous mulai belajar sedikit demi sedikit. Hasilnya bisa saya lihat di perkuliahan, saya terbiasa menjadi presenter dalam setiap tugas meskipun hasilnya kadang kurang memuaskan tapi saya anggap itu semua proses pembelajaran.

Pelan-pelan leadership saya mulai terasah, saya belajar menghandle orang. Dalam setiap tugas kerja kelompok, saya yang berinisiatif membagi tugas awal, mengarahkan rekan-rekan masing-masing tugas dan membaginya sesuai masing-masing sesuai skill mereka.

Meski terkadang ada yang nggak suka, tapi saya pikir kalau tidak ada yang inisiatif ya siapa yang memulai? meski saya juga nggak pintar dalam mata kuliah tersebut, tapi saya harus berani mengambil keputusan.

Alhamdulillah dalam semester 5, rekan-rekan yang saya bawa semuanya keluar dengan nilai yang memuaskan dan saya termasuk dalam jajaran 10 besar IPS tertinggi satu angkatan dalam semester 5.

Semester 6

Saya mulai mengubah paradigma saya. Setelah saya anggap semester 5 adalah titik keberhasilan membagi waktu, saya berani mengambil keputusan merubaha paradigma. Sesaat merenung sejenak.

Terus terang IPK saya enggak tinggi, saya harus melakukan sesuatu agar terlihat beda dengan mereka yang IPK tinggi.

Saya melihat beberapa rekan saya sudah menerima project bikin aplikasi dan web seperti Kiki Ahmadi , Adhilaras Putro. Sejujurnya saya juga sudah ikut beberapa project dalam semester 5 dan bergabung dengan salah satu software house yang mengurusi Sistem Informasi Rumah Sakit. Bayaran memang kecil, tapi saya anggap ini pelajaran sosial agar terbiasa menghadapi pelanggan dan rekan kerja sendiri.

Semester 6 saya mulai melepaskan diri dan menjadi programmer lepas meski masih harus terikat beberapa kontrak dengan software house sebelumnya, pada saat semester 6 ini saya harus menjadi leader dalam suatu project. Saya menerima tawaran dari Dian Wahyu untuk mengerjakan prototipe Sistem Informasi Bencana *yang meski gagal implementasi* dan juga mengerjakan web POSS. Semuanya dalam project itu saya menjadi koordinator dan alhamdulillah selesai.

Pelajaran yang saya petik, bahwa setiap apapun amanah yang diberikan, selesai dengan penuh tanggung jawab

Pelan-pelan hasil uang amanah pekerjaan proyek tersebut, menambah kepercayaan diri saya. Ibu saya akhirnya juga mulai menaruh kepercayaan saya ditambah dengan hasil IPS yang cukup memuaskan, rasanya ada yang terbayarkan saat di semester 1,2 dan 3. Alhamdulillah. Bayang-bayang lulus tepat waktu pun akhirnya menjadi kenyataan. Setidaknya amanah untuk lulus tepat waktu nggak boleh meleset.

Semua rasanya sudah namun ada yang belum tuntas rasanya…

to be continued…

Advertisements

2 responses to “[Story] Harga dibalik setiap perjuangan. [2]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s