[Story] Harga dibalik setiap perjuangan. [1]

Enggak sengaja, ketika membuka folder foto di laptop dan kebetulan sedang mengunggah foto-foto Gunung Lawu kemarin, mouse enggak sengaja mengarahkan pikiran dan tangan saya untuk klik pada folder ini.

Anak Galau!

Wisuda 99 ITS

Foto ini terjadi 2 tahun lalu dimana saya dan temen-teman merayakan keberhasilan (sesaat) kami setelah 4 tahun dalam perkuliahan jatuh bangun, mengorbankan waktu, tenaga dan pikiran, uang dan segalanya sehingga kami bisa berada tepat pas 4 tahun dan tidak mengingkari janji kami kepada orang tua untuk lulus tepat waktu.

Hmmm…

Ketika melihat foto ini, ada perasaan bangga luar biasa. Duduk bersama rekan-rekan untuk bisa lulus tepat waktu mungkin salah satunya, tapi yang bikin bangga dari foto ini adalah perjuangan untuk bisa duduk disini. Perjuangan 4 tahun, perjuangan mengubah dari misi mustahil menjadi misi serba mungkin dan seharusnya bisa.

Awal perkuliahan yaitu semester 1-3 menurut saya adalah titik terburuk saya dalam perkuliahan. 3 Semester pertama saya berakhir dengan IPS 2 koma sekian sekian dan IPK jelas ya bisa dilihat mata. Kebanggaan sesaat yang saya rasakan ketika lolos SPMB  benar-benar mengubah saya menjadi pribadi yang sombong dan malas belajar. Saya lupa daratan dan seolah-olah belajar enggak perlu karena saya sudah lolols SPMB padahal itu keliru.

Ibu saya membaca surat nilai semester yang dikirimkan oleh BAAK begitu terpukulnya dan herannya saya enggak merasa berdosa dengan nilai jelek yang saya dapat dalam 3 semester. Hebat ya? tapi saya selalu beralasan bahwa saya berjanji untuk merubah nilai saya dan kenyataannya saya dalam semester 2 dan 3 tidak banyak berubah.

Kalau dibilang karena saya aktif organisasi, iya jelas.  Tahun pertama saya di perkuliahan lulus pengkaderan dengan tahun berikutnya diganjar menjadi Koordinator OC Pengkaderan SI 2006. Prestasi hebat ya? karena jabatan KOC waktu itu sangat prestisius dipandang sejajar dengan SC Pengkaderan. Kesibukan luar biasa organisasi membuat saya makin lupa daratan. Perkuliahan makin kacau dan akhirnya Fisika Dasar saya kembali mendapat D walaupun sudah mengulang. Tapi seharusnya saya enggak menyalahkan organisasi saya yang memberikan tanggung jawab.

Ditambah lagi, yang makin buruk adalah saya pencinta gamer DoTA yang waktu itu merupakan game yang lagi populer. Jangan tanya, jam berapa saya pulang dari Lab Pemrograman hanya untuk bermain game ini dan jawabannya adalah dini hari bahkan sampai tidak pulang. Kacau ya? Saya termasuk dari 2005 yang pulang terakhir selain biasanya Rifki Handika Haqi dan Danu Firmansyah yang juga kencanduan game yang sama.

Ketika ibu saya tanya kenapa sering pulang pagi, saya beralasan mengerjakan tugas yang banyak. Ibu saya kebanyakan percaya karena kakak saya yang dulunya Informatika juga sering pulang larut malam tapi tidak sampai dini hari. Duh Gusti, maafkan Hamba sering banyak berbohong kepada Ibu saya. Kalau mengingat itu jangan tanya seberapa malunya saya sering berbohong kepada Ibu saya.  *tangan berhenti menulis sejenak*

Awal semester 4 ketika FRS dimulai…

Saya memandang pada titik ini, saya harus mengakhiri sikap yang terus merugikan saya. Sebelum akhirnya memutuskan mengambil mata kuliah di FRS, saya sempat merenung sejenak.

Kalau saya terus-terusan seperti ini, apa bisa saya lulus dengan IPK 3?

Saya merenung sejenak, menapak tilas kebodohan saya dari semester 1, mengingat betapa banyak dosa yang sudah saya perbuat pada Ibu saya yang telah bekerja keras membayar SPP saya dan saya membalasnya hanya dengan IPK 2 koma sekian? Betapa durhakanya saya sebagai anak yang tidak mampu membanggakan orang tua. *maafkan saya ibu*

Saya juga merenung kembali ketika saya berdebat dengan Ibu saya kenapa saya menolak untuk masuk STAN. Ibu saya bersikeras saya masuk STAN dan waktu itu saya masuk di D3 Perpajakan yang katanya masuk area “Basah”. Pada titik ini, saya sebenarnya sedikit menyesal kenapa tidak masuk STAN.

Tapi..

Tuhan membisikkan kepada saya,

Jangan lari dari masalah. Selesaikan apa yang sudah menjadi tanggung jawabmu seharusnya..

Bisikan Tuhan itu mengena. Saya enggak boleh lari dari masalah. Saya yang memilih jalan sendiri dengan memilih SI sebagai pilihan daripada STAN harusnya konsekuen dari apa yang sudah saya pilih. Saya memang bandel dan seenak sendiri, tapi ketika diberi saya secara kepercayaan tidak mau lari dari  tanggung jawab. Saya akan menyelesaikan semua ini, saya harus keluar sebagai pemenang!. Setidaknya saya harus mengalahkan diri saya sendiri.

Kalimat itu seolah menjadi penanda bahwa segalanya belum tamat, dan mengucapkan bismillah saya memulai semester 4 dengan niat yang baru, semangat baru dan tekad baru!.

Semester 4 pun dimulai, Tekad saya benar-benar baru ketka perkuliahan dimulai. Saya mulai mengurangi kebiasaaan saya…

to be continued…….

Advertisements

4 responses to “[Story] Harga dibalik setiap perjuangan. [1]

  1. Pingback: Cerita Tanpa Batas (Pilot – Semester 1) « Hatta Bagus Himawan

  2. Wah, ternyata kita punya kesamaan mas angga..:) sama2 ketrima di STAN, tapi sama2 ndak diambil.. tapi alasan saya mgkin lbh tdk masuk akal, karena ga lihat tanggal batas akhir daftar ualng.. *rada dudul yah* *sesuatu!* 😀

    sebenernya banyak hal yang kadang2 muncul di pikiran,
    kalo dulu saya pindah STAN, apakah saya akan berada disini sekarang?
    kalo dulu saya pindah STAN, muncul pertanyaan
    apakah apakah apakah yang lain…

    namun, sampai sekarang tak pernah sedikitpun saya menyesal tidak pindah ke STAN, alhamdulillah 4 tahun di SI memberikan banyak pelajaran berharga dalam hidup 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s