[Hiking][Seven Summit] Gunung Lawu #3

Do you feel cold and lost in desperation you build up hope,
but failure’s all you’ve known remember
all the sadness and frustration and let it go, let it go.

Sepenggal lirik dari lagu Iridescent – Linkin Park

Perjalanan jauh kami dengan total kurang lebih 8 kilometer yang hampir enggak ada bonus track hampir mencapai titik klimaks. Perjalanan kami diakhiri dengan menginap depan rumah seng di depan pas Hargo Dalem. Kebetulan di Gunung Lawu, umumnya sudah disediakan semacam rumah-rumah seng dengan isinya jerami dan memang sudah disediakan kepada para pendaki yang ingin melepas penat sehabis perjalanan panjang. Kalau anda mendaki pada malam 1 suro, sudah jelas sekali pada malam tersebut, Anda tidak akan kebagian rumah seng dan siap-siap titik suhu dibawah 0 dan angin kencang akan menghantam tenda. Unless Anda sudah terbiasa mendaki ya.

Rumah Seng Hargo Dalem

Rumah Seng ini sengaja disediakan untuk para pendaki-pendaki yang ingin mencari penginapan. Tempatnya lebih hangat dan yang pasti lebih tahan angin dan memang benar adanya, sore hari selepas kami mendaki, terjadi angin kencang yang menghembus di pundak Hargo Dumilah dan untungnya di Hargo Dalem yang lebih “lembah” daerahnya masih tertutup lereng. Tim Seven Summit memutuskan untuk tidak segera melakukan Summit Attack selain dikarenakan cuaca yang kurang mendukung, fisik tim Seven Summit belum cukup untuk puncak dan kami semua akhirnya beristirahat di dalam rumah seng.

Jangan dikira walaupun di dalam suhu lebih hangat *sedikit* tetap saja masih menembus rumah seng. Selepas magrib, cuaca dingin mulai menusuk raga tim. Kaos kaki beserta jaket tebal disiapkan dan saya sudah lebih *secara curang* menyiapkan sleeping bag saya hehehe, maklum suhu sudah hampir mendekati titik nol derajat!. Selepas makan malam tidak ada kegiatan lain di tenda selain tidur. hehe

Persiapan Tidur

Suara berisik membangunkan saya. Enggak tau jam berapa waktu itu, keadaan sangat gelap gulita di dalam rumah seng. Hampir tidak ada pencahayaan sama sekali. Senter yang saya pegang sebelumnya juga sudah berpindah tangan. Kalaupun keluar dari rumah seng, itu sama saja dengan latihan ketahanan tubuh. Dini hari sampai menjelang fajar adalah suhu yang sangat ekstrim bahkan bisa di bawah nol derajat.

Sesaat saya tidur lagi, tapi kemudian bangun lagi. Suara berisik orang-orang Jasamarga memang terdengar keras. Hanya saya saja yang bangun karena saya tidur diluar beralas matras dan sleeping bag. Saya meyakini keadaan sudah menjelang fajar dan persiapan Summit Attack, seketika itu saya langsung membangunkan mas Kurni yang persis disebelah saya dan membangunkan Khadafi. Hebat semua tidur pules euy!. Hahaha

Kami lawan dinginnya pagi. Bagi kami pantang kalau sudah mendaki tidak sampai puncak. Rasanya sayang sekali. Tekad bulat kami bangunkan dan akhirnya kami keluar dari tenda dan bergegas menuju Hargo Dumilah. Jam menunjukkan pukul 04.00 pagi dan tampak awan sudah mulai memancarkan kemerahan begitu kami keluar dari rumah seng. Bergegas kami menuju Hargo Dumilah.

Line of Sun

Summit Attack!

Perjalanan menuju Hargo Dumilah sebenarnya tidak terlalu curam. Jalan naik lebih banyak debu dan pasir. Saya lebih banyak berhenti, karena saya lebih banyak menghirup air daripada udara ditambah dengan cuaca yang sangat dingin menambah lamanya perjalanan tim sampai ke puncak. Senter yang kami pakai sudah hampir habis tapi seakan tekad kami harus sampai di puncak. Khadafi dengan sabar menunggu rekan-rekan yang lain untuk menyusul perlahan-lahan. Seperti kata bapak Jasamarga.

Takkan lari puncak dikejar

Klimaks perjalanan tim Seven Summit terbayarkan and here we go in Hargo Dumilah.

Hargo Dumilah

Perasaan bangga muncul setiap kali mencapai puncak. Ada harga yang terbayarkan sepertinya. Kesabaran, Tekad dan Kebersamaan menjadi faktor penting dalam setiap pendakian. Kami tidak bisa mencapai puncak kalau akhirnya kesepakatan bersama menghasilkan kami tetap di Hargo Dumilah tapi kami memilih untuk sampai puncak dan menikmati harga tekad kami.

Together

Togetherness

to be continued…..

Advertisements

4 responses to “[Hiking][Seven Summit] Gunung Lawu #3

    • silahkan menuju ke arah Solo. Saya kira dari Jakarta ke Solo nggak perlu di kasih detailnya ya. Dari arah solo, silahkan menuju Tawangmangu bisa naik bis dari terminal Solo ke arah Terminal Tawangmangu.

      Dari terminal Tawangmangu, bisa naik kol (angkot) nanti pintu masuk naik Gunung ada di perbatasan Jawa Timur – Jawa Tengah

      Salam

      • Terimakasih mas informasinya….
        Untuk tarif ongkos masing-masing kendaraannya, dari terminal Solo sampai ke pintu masuk gunung Lawu, kira-kira habis berapa ya’ mas???

  1. kalau kemarin saya naik mobil pribadi dari Semarang. Pekiraan saya tidak sampai 30 ribu sih per orang. Cuma yang harus diingat Bis dari terminal Solo ke Tawangmangu tidak setiap saat ada, biasanya kalau malam sudah tidak beroperasi.

    Saran saya sebaiknya berangkat pagi/siang dari terminal solo. nanti malamnya menginap di pos cemoro sewu.

    salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s