[Story] Maaf Hati Nurani Mengatakan Tidak

Sangat sulit sekali membedakan antara seseorang yang memang berniat baik kepada kita secara tulus atau ada maksud terselubung di dalam setiap kesempatan yang dipunyainya. Terkadang saya tidak bisa menebak, kadang ada orang yang bermaksud jahat namun di balik itu semua, orang tersebut mempunyai niat baik untuk menolong sesama. Ambil contoh Robin Hood, yang kebiasaannya mencuri kepada orang-orang kaya agar kekayaan yang dicuri diberikan kepada orang yang membutuhkan.

Sebaliknya, ada orang bermaksud baik namun dibalik kalau dibukakan kesempatan pasti selalu ada yang membisikkan untuk berbuat jahat. Enggak usah di kasih contoh ya. Saya kira dalam dunia sekarang sudah lumrah, dibalik niat baik selalu ada terselipkan niat jahat. Entah pada akhirnya itu niat baik atau buruk, yang jelas secara pribadi kita hampir nggak bisa nebak maksud akhir seseorang tersebut. Itu urusan Tuhan yang lebih tahu. Manusia sejauh hanya bisa mereka-reka kan?

Hati Nurani

Hati Nurani

Kemarin dalam minggu ini, saya diberikan tugas oleh atasan saya untuk melakukan perjalanan dinas ke sebuah kota selatan di Jawa. Kalau dari Semarang, perjalanannya memakan waktu sekitar 6 jam kalau ngebut, standar bis sekitar 8 jam lah. Saya berangkat bersama 3 orang rekan kerja saya yang dimana berasal 2 orang berasal dari seksi lain. Karena ini pekerjaan bersama makanya ada 2 seksi yang ikut pekerjaan kami kali ini. Eniwei, pekerjaan selesai dalam sehari dan praktis kita bisa pulang malam saat itu juga dan sampai kembali dengan selamat di Semarang.

Sekembalinya saya di Semarang, rekan saya dari seksi lain memberi tahu SPD-nya dibuat untuk 3 hari dimulai dari hari Minggu, Senin dan Selasa dan Pekerjaan dilakukan pada 5 alat di sebuah Gardu Induk. Waktu saya tanyakan kenapa alasannya dibuat 3 hari sedang pekerjaan kita hanya 1 hari, ybs hanya menjawab disuruh membuat seperti itu jadi ya dikerjakan saja.Kebetulan atasan kami berdua adalah sama jadi sebaiknya untuk membuat SPD harusnya memang sama.

Dalam hati, saya tidak mengerti kenapa saya harus membuat 3 hari sementara pekerjaan tersebut hanya berada di 2 alat dan belum selesai semuanya.

Hati nurani saya mengatakan tidak

dan saya bahkan sampai berdebat dengan Supervisor saya mengenai SPD kali ini, pada dasarnya Supervisor saya juga tidak setuju dibuat 3 hari tapi beliau juga tidak ingin seksi yang dipimpinnya menjadi ribut dengan seksi sebelah hanya karena alasan SPD. Supervisor saya meminta untuk dibuat saja SPDnya karena itu memang hak saya yang telah menjalankan perjalanan dinas, tapi saya bergeming dan membalas,

“Kalau memang itu hak saya, Saya berhak juga untuk tidak mengambilnya kan Bu?

dan seketika itu pula perdebatan berakhir…

Atasan kami mungkin baik memberikan SPD dengan 3 hari, karena kami berangkat jam 3 pagi di hari Senin dan baru kembali pulang jam 11 malam sampai di Semarang sehingga dalam pikirannya pantaslah kami diberikan uang lembur. Saya berusaha mempositifkan pikiran saya sampai saat ini, dan tidak sekalipun berpikiran buruk terhadap atasan saya.

Namun hati nurani saya, ini jelas nggak benar adanya,  Saya malu kepada Tuhan karena apabila saya memang jadi adanya mengambil SPD 3 hari yang artinya akan ada uang lembur berlebih sementara pekerjaan saya tidak sebanding dengan uang yang saya terima, dimana pertanggung jawaban saya nantinya kepada Tuhan? Kalau pada akhirnya saya tetap bersikukuh dengan tetap meminta 1 hari SPD maka jelas itu akan menjadi keributan, atau it means Perang Dingin lah ya.

Saya akhirnya memutuskan untuk tidak membuat SPD

Prinsip saya adalah kalau kita bekerja dengan kinerja x maka itu seharusnya berbanding lurus dengan sejumlah uang x. Kalau kinerja menjadi y maka ya bonusnya juga harus y bukan?. Kalau memang tidak setuju dengan aturan main perusahaan, ya kan tinggal bikin aturan main sendiri dengan membuat perusahaan sendiri. Saya percaya juga bahwa bekerja juga bukan semata-mata ujungnya adalah uang. Kenapa begitu? Begini,

Kalau saya bekerja dengan baik, maka saya akan mendapatkan nilai kinerja baik, kalau kinerja individu saya baik berarti kinerja organisasi kantor saya juga baik, kalau kinerja individu dan organisasi baik berarti akan ada bonus yang baik.

Selanjutnya

Kalau kinerja individu saya semakin baik, berarti karir saya juga semakin baik. Karir semakin baik berarti tantangan semakin baik. Kalau tantangan semakin baik berarti saya punya kesempatan mendapatkan ilmu yang lebih baik.

Harusnya simple seperti itu kan? 🙂

Enggak, saya percaya rejeki sudah di atur Tuhan. Terus terang bekerja pada perusahaan saya sekarang memang banyak godaannya untuk berbuat curang dan pada akhirnya menjadi candu. Saya nggak mau menjadi bagian seperti itu, Prinsip saya rejeki yang saya terima adalah halal adanya. Kenapa? bukankah kalau rejeki yang kita terima halal dan memang hak kita, membuat hati menjadi tentram kan? Tuhan sudah mencukupkan rejeki kita,  setiap orang punya jatahnya masing-masing dan seharusnya manusia nggak boleh melebihkannya kan?. Rejeki bukan berarti harus dalam bentuk material ya 🙂

Have a nice days all 🙂

Advertisements

7 responses to “[Story] Maaf Hati Nurani Mengatakan Tidak

    • cuma sharing pengalaman saja bu, kalau memang jadi inspirasi bagi orang lain, wah saya senang sekali bu 🙂

  1. Gak sengaja mampir awalnya cari cross country fault dan sympathetic eh ujug² nyasar ke bLog ini ..
    ehh PLN juga ..
    ehh banyak petuaLangannya .. seruuu pengalamannya .. bagus prinsipnya .. makasii mas bro ..

    btw kota seLatan itu cilacap kah ? hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s