[Happi2] Kal Fli De – Dugderan Semarang

Judulnya berkesan balita baru belajar ngomong, tapi tau kan maksudnya? :D. Yes, tiap hari minggu ku turut ayah ke kota, naik delman istimewa ku duduk dimuka… eh ngaco ini, yang bener adalah tiap hari minggu aku bersepeda car free day. Jangan salah guys, di Semarang juga ada Car Free Day, enggak hanya Jakarta sama Surabaya aja yang punya dan jangan salah atensi warga yang ikut CFD cukup banyak dari sepeda aneh nggak jelas, fiksi sampai sepeda kebo pun punya komunitas ngumpul sendiri.

Komunitas Sepeda Kebo

Di Semarang, jalan yang dibebaskan untuk kendaraan terpusatkan di Jalan Pemuda, mulai Paragon Mall sampai ke Tugu Muda dan yang satu adalah lingkaran Simpang Lima beserta Jalan Pahlawan dimana disitu terletak kantor Gubernur Jawa Tengah. Rute yang biasanya aku ambil ya semuanya, karena memang searah dan 2 pusat Car Free Day itu hanya dipisahkan oleh kawasan oleh-oleh Semarang yaitu Jalan Pandanaran.

Eniwei, kalau mau tau darimana posisi start aku Car Free Day, nih gambarnya.

Rute Perjalanan

ETAPE #1 (Krapyak – Bunderan Kalibanteng)

Aku start dari kosanku di daerah Krapyak. Daerah ini terkenal “angker”, kenapa bisa begitu? selain masih termasuk jalur link pantura, isinya ada ribuan truk tronton dan bis ekskutif. Kalo sore hari jangan heran bakalan ada banyak truk hilir mudik masuk keluar ke pelabuhan menuju keluar Semarang dan kalo malem rombongan bis eksekutif menuju ke arah Jakarta pasti sudah menuh2in daerah Krapyak. Jadi jangan heran kalo misalnya sebulan pasti ada kecelakaan, dan kalo ada kecelakaan pasti macet2nya sampai jalan arteri menuju pelabuhan. Silahkan menikmati macet bersama truk dan bis. #hammer.

Trayek Maut Siliwangi

Kecelakaan Siliwangi

Kecelakaan Siliwangi

Khusus hari minggu pagi sih, trayek di daerah krapyak nggak terlalu padat dan relatif jarang ada bis maupun truk tapi tetep walaupun jarang, bersepeda bersebelahan truk tetep aja ada ketegangan sendiri. hehehe dan terkadang ada seni adrenalinnya juga sih bersepeda bareng truk dan bis. Dan setelah melewati bunderan Kalibanteng, biasanya sudah free dari truk dan bis, karena truk dan bis nggak bisa masuk kota harus melewati jalan lingkar utara (arteri) untuk langsung tembus menuju Semarang Timur.

ETAPE #2 (Bunderan Kalibanteng – Tugu Muda)

Setelah dari bunderan kalibanteng dan masuk di Jalan Sudirman sampai Pasar Karangayu, jalanan relatif lebih stabil dan tenang, yang paling berat hanya musuhan sama bis kecil seperti metromini ala jakarta yang terkadang ugal-ugalan. Kalau mau berangkat subuh, pasar karangayu terasa lebih rame karena banyak pedagang baru saja importing sayur2an dan buah2an kalo nggak dari pasar Johar ya Bandungan, Ungaran. Bosennya melewati etape ini, hanya luruuuuuuuus saja dan nanti akan sampai sendiri sampai Tugu Muda. Jadi buat temen-temen yang maen ke Semarang dan tersesat tanya saja arah ke SimpangLima atau Tugu Muda nanti anda akan dengan mudah kembali menemukan rute awal.

Rute Etape 2

Eniwei, total waktu tempuh dari Krapyak sampai Tugu Muda bagi orang awam yang pertama kali bersepeda bisa sampai 30 menit lebih, tapi kalau udah terbiasa harusnya cuma 20 menit bahkan bisa 17 menit kalo sedikit ngoyo. Tapi saran saya lebih baik berhati-hati khususnya melewati daerah Siliwangi tadi.

Tugu Muda ini boleh dikatakan jantung kota ke-2 nya Semarang selain Simpang Lima. Kenapa? karena disini letaknya pusat pemerintahan kota Semarang tepatnya di Jalan Pemuda dan disini pula terdapat obyek wisata terkenal se Indonesia, ya apalagi kalau bukan Lawang Sewu yang konon pada waktu syuting Dunia Lain pernah terlihat penampakan none-none belanda. Kalau nggak percaya silahkan tonton sendiri youtube disini ya 😀

Video ini terjadi di ruang bawah tanah dimana sering para perjuang Indonesia disiksa dan dibunuh oleh tentara jepang, bahkan mayatnya pun dibuang di sungai di sebelah Lawang Sewu. Dan setelah saat itu, Lawang Sewu menjadi terkenal luar biasa padahal dulu tampilan Lawang Sewu nggak sebagus sekarang. Dulu Lawang Sewu dijadikan tempat menginap bagi para anak jalanan yang habis ngamen di sekitaran Tugu Muda. Karena itulah akhirnya mulai tahun 2011 kemarin, area Tugu Muda dan sekitarnya termasuk Lawang Sewu, Wisma Perdamaian, Tugu Muda dan Gedung Pandanaran dipercantik dan dipermak luar biasa bagusnya.

Tugu Muda dan Lawang Sewu

Captured from : http://lonelyindonesia.wordpress.com

Balik lagi ke CFD, jadi disini, Jalan Pemuda termasuk ramai dikunjungi keluarga atau remaja yang merayakan Car Free Day. Terkadang ada yang main tenis di jalan, komunitas sepeda kebo seperti gambar di atas biasanya juga berkumpul di depan Lawang Sewu. Bahkan senam pagi untuk usia lanjut pun disediakan disini. Disini CFD relatif lebih sepi dan jalurnya pendek namun lebih sejuk tempatnya karena banyak pohon rindangnya dan lebih bisa menikmati CFD daripada Simpang Lima yang relatif lebih padat.

Jalan Pemuda

Senam Bersama

Komunitas Fixie

Jadi intinya jangan meremehkan Semarang soal CFD. Meski Semarang nggak seheboh dengan Jakarta atau Surabaya tapi seenggak-enggaknya cukup ramai untuk bisa menikmati pagi di hari Minggu. Semuanya ada dan sebenarnya warga kota Semarang cukup antusias menyambut CFD.

ETAPE #3 (Tugu Muda – Simpang Lima)

Rute Etape 3

Lepas dari Tugu Muda, kita akan menuju ke Simpang Lima dan seperti yang sudah-sudah jalanannya cukup luruuuuuss saja melewati Jalan Pandanaran. FYI, Jalan Pandanaran ini adalah pusat oleh-olehnya kota Semarang jadi kalau temen-temen mau cari lunpia Semarang disini tempatnya bahkan nggak hanya kota Semarang, oleh-oleh se Jawa Tengah dan Yogyakarta dikumpulkan disini juga jadi jangan kawatir kalau ditagih mana oleh-olehnya selain lunpia disini juga ada. Oleh-oleh yang terkenal disini adalah Lunpia sama Bandeng Presto dimana temen-temen nggak akan dapet di kota lain, maksud saya RASAnya. Guarantee deh 😀

Lunpia Mbak Lien

Captured from : http://blog.tukangmakan.com/page/9/

Bandeng Presto

Selepas dari Jalan Pandanaran, kita akan disambut semacam gerbang penyambutan menuju Simpang Lima. Sepanjang jalan menuju Simpang Lima, maka jelas yang banyak kita temui hotel, pusat perkantoran dan pusat perbelanjaan. Simpang Lima sendiri adalah semacam lapangan yang luas tapi bisa diakses dari lima jalan yang salah satunya Jalan Pandanaran maka dari itu disebut Simpang Lima. Dari Simpang Lima itu sendiri, temen-temen bisa langsung menuju Demak, Purwodadi bahkan jalan menuju ke Selatan seperti Solo dan Jogja. Kalau bingung mau kemana dari Semarang, Simpang Lima mungkin jawaban yang tepat.

Welcome To Simpang Lima

Simpang Lima dari atas

Car Free Day Simpang Lima

Waktu Car Free Day kemarin pas sekali di Simpang Lima ada acara Dugderan.  Wah kalo belum tahu apa itu Dugderan, bisa dilihat disini ya detailnya. Jadi kemarin Simpang Lima lebih ramai lagi acaranya karena ada pawai dari anak-anak sekolahan yang membawa atraksi sekolahnya masing-masing. Nih foto persiapan sebelum pawai dugderan, biasa mungkin berisi sambutan walikota, gubernur dan semacamnya.

Persiapan Dugderan

The Smiling Boy

Karena pawainya masih lama, jadi aku sempetin dulu cari sarapan di sekitar sini. Biasanya yang dijual adalah Bubur Ayam dan Soto Ayam Semarang tapi karena terbiasa dengan lidah pedas ala merica Surabaya, terus berpindah ke lidah bumbu manis ala Semarang makanya aku nggak terlalu suka. Keduanya banyak menggunakan kecap sebagai ujung tombak rasanya dan rasanya malah terlihat aneh menurutku. Hehehe, dan setelah berputar-putar aku menemukan pecel yang berada di belakang Kantor Pos Cabang Semarang deket Gedung Bank Indonesia dan menurutku masih tergolong murah sekitar 6000 perak. 😀

Sarapan Pecel

Oke dan setelah sarapan pecel, saatnya menonton pawai Dugderan. And here we are the show of Dugderan 😀

Pawai Dugderan

Pawai Dugderan

Pawai Dugderan

Pawai Dugderan

Btw kalo ada yang belum tau sepeda saya seperti apa nih bentuknya. Ini adalah Polygon Urbano 2.0

Si Kecil

Kecil ya? Kenapa pilih seperti ini, pertimbanganku waktu beli kemarin adalah sepeda ini bisa dilipat dan bisa dibawa kemana-mana. Pernah aku bawa pulang ke Surabaya dan gowes dari Stasiun Pasar Turi sampai Rumah dengan estimasi waktu 40 menit. Kembalinya ke Semarang juga dari Stasiun Tawang sampai Krapyak juga nggowes dan itu terjadi pas jam 12 siang hari. *shit* Meski begitu sepeda ini termasuk ringan dari sisi aerodinamisnya dan besinya juga ringan, makanya kaki hanya perlu membiasakan sama ban kecil yang kalau dikayuh relatif berat.

Yap that’s it the story, see you guys to another story 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s