[Story] Mengubah Pandangan dalam Menikah

Entah mengapa aku ingin mengubah pandanganku tentang menikah.

Dulu sebelum lulus, aku sebegitu idealisnya terhadap yang namanya menikah. Dulu prinsipku adalah sebelum menikah harus punya karir yang mantap dan sudah sekolah S2 dan hingga akhirnya prinsip ini yang menyebabkan jadi salah satu faktor aku harus berpisah dengan mantanku. Simply, mantanku mengajak menikah muda pada umur 23 dan karena terhalang prinsip tadi dan jadilah kami harus berpisah. Eniwei, masa lalu adalah masa lalu dan sebaiknya tidak perlu dibahas lagi.

Titik tolak ketika pikiranku mulai terbukakan, adalah ketika aku dan temenku berdua mengunjungi rumah mantan dosen pembimbing Tugas Akhir [the story was here] dan sekaligus menengok bayi beliau yang baru saja lahir. Beliau ini adalah wanita luar biasa menurutku, karena jarang sekali aku menemukan wanita seperti beliau yang betul-betul totally dedicated to programming. Setelah ngobrol ngalor ngidul mengenai keadaan terakhir kami setelah lulus dan obrolan sudah menjadi garing, terlintas dalam otakku untuk menanyakan :

“Bu, Kenapa Ibu memutuskan untuk menikah muda?”

Aku sedikit lupa ingat jawabannya, tapi secara overall jawabannya adalah

“Kalo sekiranya kita sudah cukup, apalagi yang mau ditunggu? Cukup bukan berarti berlebih”

Lalu kubalas,

“Bagaimana dengan biaya hidup bu, setelah Ibu menikah?”

Beliau membalas….

“Kalau rejeki kita tunggu sampai banyak, kita enggak akan nikah, emang ada gitu estimasi ukuran minimal biaya hidup kalo sudah menikah?”

Dan aku pun terdiam, sungguh pada saat itu semua prinispku terkunci dan pada saat itulah, titik keras yang ada di prinsipku mulai pecah dan kalah oleh sebuah logika yang sederhana. Aku pun tidak berusaha menelan mentah-mentah pernyataan dari beliau dan karena terbawa sifat gengsi sebagai lelaki, prinsip itu gak bisa hancur begitu saja.

Waktu terus berlalu dan akhirnya satu persatu aku melihat teman-temanku sudah menikah. Salah satu pernikahan temenku yang masih satu angkatan denganku ini menarik pemikiranku. Temanku, Desy Putri P, dan beliau ini adalah rekan pertama dari angkatanku yang pertama kali menikah dalam angkatan, mengambil keputusan dengan menikah orang yang baru dikenalnya beberapa bulan. Beliau tidak pernah merasakan apa itu pacaran dan sebagainya, keduanya dikenalkan oleh masing ustadz dan ustadzah.

Pernikahan ini ternyata membuka pemikiranku, dan dalam hati aku bergumam,

“Mereka belum kenal lama bisa saja menikah, yang sudah lama pacaran belum tentu jadi menikah. Jodoh memang nggak kenal waktu kali ya”

Sampai saat ini, pernikahan mereka masih bahagia dan telah dikaruniai seorang putri yang cantik dan dari pengalaman ini ternyata membukakan mata dan membenarkan dari apa yang telah dikatakan dosen pembimbingku. Akupun bisa mengambil kesimpulan, ternyata bukan uang dan karir yang bisa membahagiakan keluarga. Dan salutnya buat temenku Desi, mengenal pasangan lebih dalam waktu singkat bukan waktu yang mudah menurutku. Enggak semua orang berani mengambil resiko seperti itu tapi mbak Desi berani melakukan breakthrough. Salute.

Dalam perjalananku sampai saat aku menulis lembaran digital ini,  aku menemukan banyak motivasi rekan-rekan yang telah menikah. Ada yang terjepit peraturan SK dilarang menikah sesama pegawai, Ada yang menikah karena memang sudah lama pacaran dan menunggu apa lagi, Ada yang menikah karena sebelumya sakit hati sebelumnya oleh mantannya, dan masih banyak lagi yang terkadang membuat aku banyak menerima pelajaran.

Namun ya, ada satu alasan yang menurut saya paling benar dijadikan untuk menikah, yaitu menikah karena adanya Tuhan di dalam pasangannya. Iya, menikah lah karena saya dan engkau percaya pasangan kita akan membuat kita jadi lebih baik, lebih dekat denganNya.  Dalam agama saya, hukum Islam, menikah berarti adalah setengah tiang agama. Bayangkan, betapa mulianya kita menikah dalam alasan tersebut, Subhanallah :). Menikah dengan jalan agama membuat diri kita lebih ikhlas karena sesuatunya pasti yang kita percayai adalah pasangan kita akan membantu kita dalam senang maupun susah. 

Bukankah kebahagiaan seperti itulebih mulia adanya daripada kebahagiaan menikah karena alasan materialis?”

Menikah Agama

Menikah Agama

Captured from : blognyasukmasuci.wordpress.com

Kita semua yakin Tuhan tidak akan mengurangi rejeki kita apabila benar-benar belajar ikhlas dan yang ada Tuhan akan menambah rejeki dalam pernikahan. Ingat rejeki bukan berarti harus berupa material. 🙂

Selamat Beristirahat 🙂

Advertisements

18 responses to “[Story] Mengubah Pandangan dalam Menikah

  1. Nice post..wah,kayaknya mas kecap bolak balik kesetrum iki..
    ndang di Ijab qobul mas.. 😀

    ini paradigma yg sama seperti ane,gan..apa bisa mencukupi biaya hidup,dll..
    padahal sudah jelas. Dia yang berjanji akan mencukupkan hamba-Nya yang menikah..

    sayangnya,kdg namanya manusia, msh bingung dan blm bisa mendefiniskan kata “cukup” itu,harusnya memang kudu lbh banyak bersyukur.

    Btw,coba baca bukunya ippho santosa mas, 7 keajaiban rejeki.
    Salah satu buku yg sangat recomended buat dibaca, dan slh satunya ttg ini..

    • belum ada calonnya masbro 😀

      sulit mendefinisikan kata cukup, karena masing-masing orang mempunyai persepsi yang berbeda dari total kebutuhan secara kuantitas

      oh ya? well maybe i should to go to bookstore, thanks for your recommend 😀

  2. iyoooo weesss kawin konooo ngenteni opo maning.. mashoho taun ngarep kawin. tinggal kowe nihhh.. hihihi . jangan jadi patokan pacaran kudu 6 or 7 tahun lhooo., selak bosen golek maning dehhh hihihi *kiddink

    • wah amiin mas,
      terima kasih mas atas doanya,

      semoga mas juga mendapatkan pasangan sholihah juga 🙂

  3. Hidup adalah pilihan…

    dan sebaik-baik pilihan adalah yang berdasarkan kepada Alquran dan Alhadits.. 🙂

    Semangat mas angga. Anaknya tinggal nunggu wisuda kok… =))

  4. Heyahahaha… Zzuuper sekali tulisan bro angga..
    Ya saya doaken semoga mas angga cepet dpt jodoh *ingat pesan ibunda masbro..
    Lagian klo cari yang lebih cantik, lebih ini lebih itu gak akan ada habisnya. Yang penting sreg di hati mas Angga.
    Klo masalah nunggu cukup emang kita sebagai cowok sering merasa gengsi karena sifat alamiah cowok yg gak pengen keluarganya nanti hidup kekurangan, selalu pengen membahagiakan keluarganya. Materi emg penting tapi kebahagiaan gak cm dtg dari materi berlimpah. Bukan begitu masbro?:D

  5. woooott, kecap nulis beginiaan… =)) kamu habis makan apa caap sahur tadi pagii…

    anyway, kamu sudah banyak berubah ya cap 😀 hahaha…
    semangka caaap! habis gini lak anake wisuda se *lhoh*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s