[Travelling] North Sumatra

Setelah memendam harapan lama akhirnya kesampaian juga menginjakkan kaki di tanah Sumatra. Memendam harapan bagi saya untuk melihat tanah di luar Jawa. Bukan berarti saya bosan dengan tanah Jawa, tapi kesempatan langka seperti ini kita enggak boleh melewatkan bukan?. Oke perjalanan ke Sumatra ini sebenarnya dalam rangkaian lomba Inovasi tingkat regional yang dilaksanakan di Udiklat Tuntungan Medan. Jadi sekalian saja jalan-jalan, itung-itung ngabisin sekalian duit SPPD. *Sombong* hahaha

Jadi ceritanya ini bukan karena kita enggak menang terus kita mencari penghiburan diri dengan lari ke danau Toba, enggak bukan begitu, enggak peduli menang ato kalah kita bakalan tetep jalan-jalan. Eniwei, cerita perjalanan kali ini bersama dengan mas Fauzan, Afid Ridho dan Riski Agustina W. Karena lomba berakhir pada kamis malam, maka kita putuskan jalan-jalan dilaksanakan mulai dari Jumat subuh, jadi di pagi hari dini buta kita mengarungi jalanan. Bahkan tukang sampah tetangga sebelah belum bangun kita udah bangun duluan. REKOR! <- Lebay.

Rute yang kita lewati melalui arah brastagi, artinya kita melewati daerah pegunungan. Kalo kata driver yang membawa kami jalan-jalan ini, hanya daerah brastagi lah daerahnya subur, selain itu Sumatra Utara tandus + kering dan panas. Ya kecuali danau Toba itu sendiri sih :P. Dari Medan kami berangkat sekitar pukul 5.00 pagi, estimasi kami sih nyampek di air terjun sipiso-piso sekitar jam 10 dan ternyata molor karena terjebak macet di pegunungan brastagi.

Lurus berkelok-kelok intinya

Foto di atas diambil ketika sebelum lomba Inovasi dimulai. Jadi sebelum lomba dimulai, rekan-rekan PLN Distribusi Jawa Tengah dan Yogyakarta sudah mendahului peserta lain berwisata ke Brastagi. Oke balik lagi ke ceritanya.

Karena Brastagi sebelumnya sudah kami lewati, maka perjalanan diteruskan menuju ke air terjun Sipiso-piso. Sebenarnya ada 2 jalan menuju danau Toba, yang pertama melewati Brastagi seperti gambar di atas atau melewati Prapat jalan yang pada umumnya. Melewati Brastagi artinya memutari gunung dan alamat bakalan lama perjalanan, tapi kalau bisa melihat pemandangan perjalanan gunung dan bukit, looks like we have a deal.

Air Terjun Sipiso-piso

Jam 11an kami sampai di Air Terjun ini. Konon katanya Air Terjun akan dibuatkan pembangkit karena tingginya mencapai 100 meter dan salah satu yang mengisi air di Danau Toba. Tempatnya seperti lereng-lereng, Eniwei kalau yang doyan panjat tebing, mungkin disini salah satu tempat yang cocok  kali ya.

Air Terjun Sipiso-piso

Danau Toba tampak dari Air Terjun

Kami cuma sebentar saja disini karena mengejar waktu ke Danau Toba. Selain itu sih, disini juga enggak ada apa2nya. Yang ada cuma pasar kecil yang jualan oleh-oleh. Tapi worth it sekali dengan pemandangan yang ada disini, sayang karena enggak punya SLR gambarnya kurang bagus. Nih daripada dibilang hoax, aku sertakan poto-poto pas disini. Cocok nih kalau ada pagelaran, poto calon band 😀

Fauzan Isnawan, Riski Agustina, Afid Ridho Aji

Perjalanan dilanjut lagi ke Danau Toba. Sepanjang perjalanan menuju danau Toba setelah keluar dari Air Terjun yang kami temui di awal perjalanan hanya pegunungan tandus + kering berpasir. Satu-satunya sepanjang perjalanan, komoditas perkebunan yang dijual disana adalah jeruk. Itu lo, jeruk kecil-kecil yang biasanya dijajakan dipinggir-pinggir jalan.

Pemandangan sepanjang perjalanan bagus, apalagi langit waktu itu sedang berawan ditambah kombinasi hijau + kering, hasil potonya amazing. Perpaduan antara hijau gunung, kering putih tanah ditambah biru langit. Hasil pewarnaannya emang cuma 3 warna yang dominan tapi bagus. Langsung aja ya cekidot.

Pematang Siantar

Pematang Siantar

Pematang Siantar

Perjalanan dari Air Terjun Sipiso-piso sampai dengan Danau Toba kebanyakan aku isi dengan tidur. Hahaha. Setelah pemandangan foto-foto di atas tadi, kebanyakan perjalanan hanya diisi hutan, hutan dan hutan. Sepertinya sih kita melakukan atraksi pemutaran bukit dan gunung sepanjang perjalanan menuju Danau Toba. Kami akhirnya sampai di danau vulkanik terbesar di Asia sekitar pukul 4 sore. Alamak kalau dihitung-hitung kami menghabiskan waktu sekitar 7-8 jam lebih hanya untuk di mobil dengan pemotongan waktu makan pagi, makan siang, ke wisata Air Terjun Sipiso-piso dan Shalat Jumat. Wow, itu sama saja dengan perjalanan Semarang-Cilacap yang bikin sakit punggung luar biasa! 😀

Danau Toba

Danau Toba

Dermaga di Danau Toba

Pulau Samosir Terlihat!

Begitu kami menemukan tempat parkir yang pas, enggak ambil lama kami langsung naik kapal menuju ke Pulau Samosir. Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, kalau kami tak segera naik kapal takut balik dari Pulau Samosir malah kemaleman. Akhirnya kami putuskan untuk segera naik kapal dan menuju ke Pulau Samosir. FYI, tiket untuk menuju ke Pulau Samosir cukup murah sekitar 4 ribu rupiah saja koq dan memakan estimasi waktu setengah jam.

Kapalnya

Sampailah kami di Pulau Samosir. Awalnya aku kira Pulau Samosir mirip dengan Pulau Kayangan yang benar-benar masih relatif sepi penduduknya dari hingar bingar dan ternyata setelah aku tanyakan dengan local people disana, Pulau Samosir bahkan sudah menjadi kabupaten #glek #kemanaAja. Setelah landing, baru benar-benar mengerti ternyata Samosir sudah ramai dengan penduduk, enggak ramai sih lebih mirip dengan desa-desa kali ya tapi tidak terlalu primitif. Eniwei, untuk kebutuhan sembako tiap hari, angkutan satu2nya ya cuma kapal seperti di atas. Kebanyakan sayur2an dan buah2an berasal dari Brastagi yang memang cocok untuk tanaman sayur2an.

Pulau Samosir

Pelabuhan di Samosir

Jalanan Samosir

Rame kan Pulaunya? begitu masuk di Samosir, ternyata udah ada mobil dan truk –“. Konon ceritanya, pernah ada mobil yang tenggelam di Danau Toba dan kerangkanya nggak pernah diangkut lagi. Sejak saat itu, mobil akhirnya nggak dibolehin lewat lagi menuju Samosir. Ternyata, disana kepulauannnya sepertinya sudah ditata rapi. Begitu kita masuk di dermaga, sudah disambut tempat oleh-oleh khas Sumatra Utara. Dengan alesan klasik dan waktunya sudah mepet sore kami putuskan untuk hanya beli oleh-oleh saja di pasar karena takut udah mau malem dan padahal pengennya jalan-jalan muterin Samosir. Oh iya, kata Asistant Manajer sekantor dengan saya, memang disarankan kalau mau ke Pulau Samosir harus menginap jadi lebih kerasa wisatanya.

Pasar Samosir

Tujuan kita langsung satu, enggak banyak cincong dan comel-comel, langsung menuju beli oleh-oleh. Eniwei, kalau dari pelabuhan, nanti belok kiri lalu lurus dikit akan ketemu langsung pasar-pasar. Di pasar itu kamu juga masih bisa tawar-menawar soal harga dan saran saya, kalau pejual menawarkan harga maka kamu pasang harga setengahnya aja. Tetapi kalo lebih jenius lagi, kamu bisa mendapatkan harga afgan (sadis) atau harga rosa (tega) ke penjualnya. Makanya, kalau kamu jagoan diplomasi atau negosiasi harusnya dapet barang murah disini.

Makam Leluhur Samosir -> Sidabutar

Deket pasar tadi, ada makam leluhur dari Pulau Samosir. Dulu sebelum samosir dan maju seperti sekarang, Marga Sidabutar adalah penggerak atau istilahnya corong vokal dari warga Samosir untuk diperhatikan. Patung gajah di sebelah makam menandakan persaudaraan, katanya sih yang jaga makam menandakan persaudaraan antara masyarakat Aceh dan Batak.

Patung untuk memanggil hujan

Jadi ceritanya ini adalah semacam tradisi untuk memanggil hujan. Patung-patung jejer itu dimaksudkan sebagai tarian memanggil hujan. Dulu katanya tiap tahun ada tradisi ini untuk memanggil hujan, namun karena seiring jaman menggantikan, tradisi ini hilang. Sayang ya? padahal kalau tiap tahun ada tradisi seperti ini, potensi wisata masyarakat akan meningkat dengan sendirinya dan ekonomi pun jadi naik. Saya membayangkan kalau tiap daerah bisa menggelar tradisi masyarakat Tanah Toraja yang kalau ada meninggal pasti ada upacara adat. Ya ya ya, seiring majunya jaman tradisi itu sudah berganti dengan Facebook dan Twitter. –“

Ini apa ya? kalau enggak salah sih dulu tempat dari marga Sidabutar untuk menjamu tamu-tamunya. Katanya ada tradisi juga untuk seperti jamuan cuman ketika saya tanya ke yang menjaga makam ini dimaksudkan untuk apa, mereka sendiri cuma bilang itu untuk tempat jamuan.

Tempat Jamuan

Nggak banyak sih yang bisa aku ceritakan dari Pulau Samosir karena waktu saya terbatas disana aja selain itu lamanya juga sih karena belanja. #hammer, padahal sebenarnya di atas pasar ada semacam pasar yang jualan tenun. Gapapa next time kesana lagi kalo ada waktu. By the way karena waktu sudah menunjukkan pukul 5.30 sore, artinya kami harus balik kembali ke daratan ato kalo nggak ya bakalan kehabisan kapal karena udah malam.

Afternoon in Toba Lake

Satu hal yang aku suka dari perjalanan ini, kombinasi langitnya bener-bener biru, bagus untuk sesi pemotretan sana-sini seperti Vanilla Sky lah, hahaha. Tahukah anda sampai jam berapa saya kembali ke Medan? JAM SETENGAH 3 PAGI! hahaha karena macetnya luar biasa menuju danau Toba, untungnya kami terjebak dalam alam mimpi. :p . Okay that’s it, travelling kecil ke danau toba. Have a nice day guys! 🙂

Advertisements

3 responses to “[Travelling] North Sumatra

  1. Salah satu rute ke danau toba selain lewat Berastagi tuh lewat Parapat. Sedikit koreksi untuk tulisan diatas yang tertulis Prapat.
    Oiya, kalian nyampe set3 pagi? haha..Beruntunglah saya yang nyampe jam set1 pagi, langsung tepar boo..

    • yo meleset dikit, hafal2 gmana gitu masbro 😀 .Enggak terpaut jauh sebenernya, cuma kita start pulang dari toba jam 8 atau setengah 9, kau kan jam 7 kan? sama aja 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s