[Hiking] Gunung Ungaran (Puncak + Turun Gunung)

Postingan ini lanjutan dari postingan sebelumnya.

Sesampainya pada medan ini, kami semua rata-rata sudah mau putus asa. Karena apa yang dikatakan hanya 2000 mdpl ternyata bisa ribuan kilometer, oke kalo memang jalan lurus cuma muter-muter bukit kami masih oke, dengan kondisi kecuraman 45 derajat tanpa henti dari mulai hutan sampai bebatuan curam, serasa tak pernah sampai. Waktu gw tanyakan ke Mas Kurni mana puncaknya, Mas Kurni cuma menjawab masih jauh dan ada di bukit sebelahnya lagi. My God, derita belum berakhir rupanya. Hahaha. Tapi inilah bagian serunya, penasaran tanpa henti kapan sampai puncak adalah tantangannya.

Terus-terus majuuu,

Lo tau? ternyata puncak Ungaran ada di balik bukit yang sana itu. Astaga, dan ternyata kami masih harus jumping lagi jalan di balik bukit. Hahaha, pada saat inilah energi kami sudah hampir Low Energy, kaki sudah gencot-gencot minta diolesin oli lagi kayaknya. Setelah rintangan selesai, sampailah kami di Puncaaaaaaaaaaaaaaak Ungaran!. Akhirnya kami sampai juga *sambil menangis terharu* dan kaki ini bisa dilesehin bentar. 😀

Senangnya sampai puncaaak

Sampai Puncaaaaaaak!

buyar buyaaar, pasang tenda sekarang!

Senja hari di puncak Ungaran

Pesta poto2-nya pun buyar sudah berganti dengan acara mendirikan tenda dan memasak. Eniwei dinner malam itu adalah ikan sarden 2 kaleng + abon daging sapi 1 plastik. Khadafi menyiapkan kompor dan memasak beras. Enggak tau ya, gw pikir 2 kaleng sarden itu kurang, ternyata cukup dan herannya kami masih bisa merasakan lezatnya. Ya mungkin karena laper pada titik puncak + hawa suasana dingin mulai menusuk, apapun serasa jadi enak. Kalau maupun rumput bisa kita makan, sayangnya kami bukan kambing 😀

Tenda para penggembira

makan malam duluuuu

Karena kelelahan yang luar biasa sekali, maka diputuskan setelah makan malam langsung tidur enggak pake lama. Kebetulan karena gw nyewa sleeping bag, nyoba tidur diluar pake sleeping bag. Masuk pertama langsung hangat, cuman karena struktur permukaan yang berbatu, jadinya punggung ENCOK semua hahaha. Pemandangan di puncak gunung bener-bener amazing. Menengok ke bawah kalo enggak ada kabut yang menutup melihat kemerlip lampu kota Semarang dan Ungaran, sebaliknya menengok ke atas melihat bintang-bintang jelas sekali. Sayang karena di sekolah dasar gak ada pelajaran Astronomi jadi enggak ngerti bintang apa aja yang melintas di langit. hehehe.

Eniwei, pas jam 4 dimana kondisi saya masih tidur di sleeping bag adalah jam dimana mengetes ketahanan tubuh, tahu kan jam segitu pas embunnya lagi turun dan suhu luar biasa dinginnya. T.T , Rifki Handika yang juga tidur di sleeping bag sebelahan gw, enggak kuat rupanya dia dan mengajak masuk ke tenda. hahaha akhirnya jadilah kami menggusur yang tidur di tenda untuk geseran. Voilaaa, inilah pemandangan yang kami tunggu-tunggu. SUNRISE !

matahari tertutup kabut T.T

Three idiots

Gunung Merbabu terlihat 🙂

Pesona Merah Matahari

Setelah puas menikmati matahari terbit *meski tertutup kabut*,  waktunya sarapan pagi. Seperti biasa, kebersamaan selalu menjadi andalan kami, entah makan atau mendirikan tenda. Kali ini sarapannya adalah mie goreng *selera anak kos banget ya*, memasak indomie sebanyak 8 bungkus untuk dibagi 10 orang, enggak tau ya walau keliatannya kurang tapi koq cukup aja ya yang dimasak. Selesai itu beres-beres tenda dan tak lupa selalu untuk eksis sebelum turun gunung 😀

Kompak Sejahtera Selalu!

Tendanya dirapikan bang

Eksis dulu sebelum turun gunung

Turun gunung kami melewati jalur yang berbeda. Jalur yang kami lewati nantinya akan tembus Candi Gedong Songo, Candi tertinggi di Jawa Tengah, biasa digunakan sebagai tempat rekreasi. Eniwei, jalan yang dilewati waktu turun gunung kemarin, benar-benar mirip hutan basah, enggak tau karena itu pagi habis hujan embun atau memang tipikal hutannya seperti itu. Sialnya, sandal gunung yang gw pake cocok untuk medan berbatu, bukan medan tanah licin akibatnya jangan tanya jatuh berapa kali karena kepleset, ibaratnya kalo udah di jejerin sama tanah, MIRIP PLEK! hahaha.

Terabas bang dhafi hutannya!

Sama halnya ketika mendaki ke atas Ungaran, kami harus putar-putar bukit dulu dengan naik turun gunung. Bedanya karena akibat basah hutannya, jalan turun mesti hati-hati. Ada mungkin ya 3-4 bukit yang kami naik turun dengan keadaan sebelah kiri-kanan jurang yang kalo enggak hati-hati jadi berita di koran lokal -_-“. Yang paling enggak enak dari turun gunung ini adalah menguras energi, jauh lebih menguras ketika mendaki. Kenapa? karena harus main rem, kalau enggak ya alamat tergelincir. Jadi jangan tanya berapa kali kami harus berhenti karena isi bensin dulu.

Kebersamaan selalu jadi andalan

Istirahat isi bensin dulu bang

Berulang kali isi bensin

yang paling gw benci dari medan turun gunung ini adalah medan yang terakhir. Dimana harus menuruni bukit dengan kecuraman 45 derajat, sebelah kiri jurang selama 1,5 jam. Seperti yang sudah gw sebutin di atas, entah karena kaki udah encok-encok + pengaruh gaya sandal yang enggak cocok, jadinya seperti biasa penghuni belakang deh karena sering jatuh berulang kali. Eh lupa, pengaruh berat badan harusnya juga masuk kali ya. Hahaha, sayang karena pas medan ini kita enggak sempet poto2 karena konsentrasi menuruni bukit, enggak sempet ngeksis bro/sis.  Eniwei pas keadaan ini, jujur gw sempet udah pada titik nyerah dan bawaannya pengen jatuh jurang aja tapi karena temen2 yang lain masih pada kuat jadi dikuatin hahaha. Dan pada akhirnya, kami sampai juga di Candi Gedong Songo. My God Indonesia, Finally kita Finish!

muka muka kelelahan

Sebelum kami akhirnya kembali ke Semarang, tak afdol kalo kami tak eksis dulu di Candi Gedong Songo. Hahaha, sumpah pada saat itu, sendi kaki gw udah mau copot rasanya, pegelnya minta ampun karena sendi kaki kebanyakan dipakai menahan turunan tanjakan.  Ampuuun T.T

Begaya dulu di Candi Gedong Songo

Begaya lagi bang, eksis dulu lah

Akhir perjalanan kami berada disini, dan bagi gw dan temen-temen yang baru naik ke gunung, sumpah pengalaman ini exciting banget.  Impian kami adalah menaklukan semua gunung di Jawa Tengah. Dan kami akan melakukannya lagi habis lebaran dengan membuka Lawu Summit. Bener apa kata temen gw, ternyata hiking emang bikin addicted. Salute to you guys 😀

Ekspresi kelelahan luar biasa

Photo credited to : Deardo Simon Manalu

Advertisements

4 responses to “[Hiking] Gunung Ungaran (Puncak + Turun Gunung)

  1. makasih kawan end semuanya kapan kapan kita ulangi lagi
    salam tandon pribadi mantan satpam pln bojonegoro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s