Tak Perlu Muluk-Muluk untuk Seorang Ibu

Tak perlu muluk-muluk,

Berapa kali Kita mengatakan,

Saya sudah berkontribusi untuk perusahaan ini, kenapa gaji saya tidak anda naikkan dan tidak segera promosi

Berapa kali Kita mengatakan,

Saya sudah mengabdi dan berbuat kepada negara, mengapa saya kurang diperhatikan

Sekarang tanyakan pada diri Kita sendiri,

Berapa kali dalam hidup, Saya abdikan hidup saya untuk merawat dan mencintai Ibu saya sepenuh hati

Anda dan saya, mungkin termasuk orang-orang bangga dan sombong karena kontribusi dan prestasi luar biasa kepada perusahaan maupun masyarakat. Coba sekarang pertanyaan itu dibalikkan kepada Anda, Sudah berapa hari Kita melayani Ibu sepenuh hati? Bahkan, ketika jari kaki dan tangan digabungkan, mungkin masih menyisakan beberapa jari yang masih belum terhitung.


Pertanyaan yang sama untuk diri Anda dan termasuk Saya

Berapa kali kita mengiyakan dengan ikhlas, ketika Ibu Anda meminta sesuatu dari Anda?

Masihkah, mungkin Kita ingat ketika Ibu meminta anda untuk pergi ke warung untuk sekedar membeli garam atau bungkusan telur. Berapa kali Kita mengatakan “Siap Bu, Saya berangkat” , Berani menghitung dalam satuan puluhan? Yang ada, Saya dan Anda meyakini kalimat “Nanti ya Bu, Saya sedang melakukan X , Y , Z” ada dalam hituan ratusan kali ketika Ibu meminta sesuatu.

Sekarang, Pernahkah Ibu mengeluh ketika Kita masih bayi, Anda meminta ASI karena kehausan atau mungkin ketika Kita menangis luar biasa hanya karena ingin dipeluk Ibu. Ratusan kali Kita meminta hal itu, tapi ratusan kali Ibu menyanggupi semua itu tanpa ada perasaan paksaan ataupun karena hanya ingin mendapatkan uang.

Ketika Kita sudah besar dan menjalani sekolah, Berapa kali Kita merasa belajar dengan tidak benar dan menyia-nyiakan uang hasil keringat Ibu bekerja, membanting tulang dari pagi sampai sore, membuatkan Kita sarapan di pagi hari supaya Kita selalu bersemangat dalam bersekolah.

Tahukah Anda,

Ibu mungkin sedang berhutang sana-sini untuk menyiapkan bekal sekolah, meminjam kepada tetangga, meminjam kepada bank, melakukan penghematan besar-besaran dalam keuangan rumah tangga, makan di-hemat tapi tetap menjaga gizi Kita. Tahukah untuk apa itu?

Supaya Kita kelak Anda tidak seperti Ibu, Supaya Kita kelak menjadi orang yang Besar, Sukses dan bermanfaat untuk masyarakat

Dan pernahkah Kita bayangkan,

 

 

Sekolah dan Pekerjaan yang telah Kita bangun sampai sekarang, harusnya Kita kembalikan kepada Ibu?

Kita mungkin bisa menjawab pertanyaan ini sendiri sekarang.

Darimana modal sekolah kita sehingga kita bisa duduk nyaman dan mendapatkan kesetaraan?

Pernahkah Kita mendengar,

Ibu meminta modal itu kembali ?, modal yang telah menjadikan Kita seperti ini sekarang, menjadi hebat dan luar biasa.

Pernahkah Kita mendengar,

Ibu membicarakan modal sekolah Kita mungkin berasal dari hutang yang didapat sana sini?

Dan sekarang ketika Ibu meminta sesuatu dari Kita, yang mungkin nilainya tidak seberapa dari modal yang telah ditanam,atau dengan kekayaan Kita sekarang, hebatnya Kita masih mengedepankan ego? Kita masih bilang ingin beli ini dulu, beli itu dulu dan diakhiri, “Nanti ya Bu, kalau sudah ada duit aku belikan” dan tahukah Anda bahwa hal ini berujung yang namanya LUPA dan tidak akan pernah terwujudkan.

Dan, apakah Ibu mengeluh ketika permohonannya ditaruh pada prioritas akhir dari kebutuhan Kita? Ibu yang baik dan betul-betul sayang pada Kita, pasti tidak akan mengeluh dan hanya akan menjawab “Oh ya sudah gapapa, kebutuhanmu didahulukan saja, Ibu gampang”.

Pernahkah kita merasa tertampar akan kalimat ini? atau setidaknya Kita mempunyai merasa malu?

Dalam perjalanan Ibu sudah menjadi tua-renta, Kita sudah sibuk mengurus pekerjaan, mengurus keluarga, mengurus anak, mengurus masa persiapan pensiun. Berapa kali ya kita pulang ke rumah menjenguk Ibu, hanya sekedar untuk mengobrol pekerjaan, bagaimana di kantor, suasana perantauan, mengeluhkan keluarga kita dan anak-anak. Alasan belum ada waktu selalu menjadi alibi utama ketika Ibu menanyakan “Kapan pulang ke rumah?”.

dan, apakah Ibu mengeluh ketika kita menjelaskan alasan karena belum adanya waktu kita menjenguk?

Ketika Ibu meminta permintaan yang kecil yang bahkan bisa kita penuhi hanya dalam sekejap, kita masih mempunyai ribuan alasan karena belum sanggup, Pernahkah dari bibir Ibu terlontar “Kamu anak durhaka, karena tidak memenuhi permintaan Ibu”

Sekarang harusnya kita balik kepada diri sendiri mungkin ya, kalimat itu sepantasnya diucapkan oleh siapa? Bukankah diri sendiri yang harus mengucapkan itu?. Ini bukan masalah menjustifikasi kita jadi anak durhaka, tetapi Realita mengatakan seperti itu, dan kenapa kita harus lari dari realita?

Terakhir, pernahkah Anda melihat wajah Ibu, ketika kita lahir dari dunia dengan Selamat dan Sehat tanpa kekurangan cacat apapun, Pernahkah sampai sekarang kita bersyukur karena itu? Pernahkah kita bersyukur karena kita telah dilahirkan di dunia?,

Tahukah Anda,tak henti-hentinya Ibu memanjatkan doa di setiap pertemuan dengan Tuhan-nya, mengatakan terima kasih karena telah diberi anak yang sehat, sukses dan kuat seperti sekarang?

Apakah ini menjadi permintaan muluk, ketika kita balik memanjatkan doa kepada Ibu agar senantiasa sehat selalu, diberi umur panjang dan menjadi saksi pernikahan kita masa mendatang. Sungguh ini bukan permintaan yang berat dan bukankah setiap kita selesai bertemu dengan Tuhan, yang ada kita melanjutkan aktivitas dunia dan lupa dengan pengabdian kecil kepada Ibu.

Tahukah Anda yang sebenarnya diminta Ibu, bukanlah barang atau kekayaan yang melimpah

Tahukah Anda yang diminta sebenarnya hanyalah doa yang tulus kepada Ibu, supaya apa? Karena Ibu mengharapkan kita semua sekeluarga bisa berkumpul dalam Surga.

dan sesungguhnya, yang diharapkan Ibu tidaklah muluk-muluk. Hanya permintaan kecil yang sering lupa kita penuhi. Doa kepada Ibu yang tak pernah terputus.

PS : Untuk Ibuku

Bukannya Angga tidak ingin membalas sms dari Mama, Angga hanya tidak tahu harus membalas apa. Angga merasa begitu kecil dari pengabdian kepadamu ketika membaca sms-mu. Semoga Angga bisa melakukan lebih dari apa yang mama harapkan.

Advertisements

4 responses to “Tak Perlu Muluk-Muluk untuk Seorang Ibu

  1. waahhh mantabb bener posting ini
    jadi inget lagune iwan fals

    “Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
    Lewati rintang untuk aku anakmu
    Ibuku sayang masih terus berjalan
    Walau tapak kaki penuh darah penuh nanah
    Seperti udara kasih yang engkau berikan
    Tak mampu ku membalas . . . . . . . . . . . .
    Ibu . . . . . . . . . . . . . ibu . . . . . . . . . . . . .”

  2. apa hubunngannya dengan
    “Saya sudah berkontribusi untuk perusahaan ini, kenapa gaji saya tidak anda naikkan dan tidak segera promosi”

    apa hubungannya ibu dengan perusahaan ? ooohhww.. perusahaannya punya ibu.. iya dech… 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s