Alasan kenapa Indonesia kalah

ketika babak pertama saya tinggalkan skor masih 0-0, namun ketika melongok sebentar dan sudah terjadi 2-0 untuk Malaysia dan akhirnya ketembahan 1 gol Malaysia dari Safee. Voila, 3-0 untuk Malaysia. Saya salut dengan Malaysia yang begitu bagus memanfaatkan momen pertandingan pertama mereka di kandang sendiri. Ini yang tidak diwaspadai Indonesia, ketika Malaysia mencukur Vietnam pada putaran pertama lalu. Oke oke, ini berikut alasan (dari kacamata saya) kenapa Indonesia bisa kalah,

dari Fisik

Babak pertama saja saya sudah melihat Malaysia begitu pintar membaca strategi kita. Anda bisa lihat sendiri mereka mengumpan dari pucuk-pucuk pertahanan Indonesia. Mereka tahu, Zulkifly Syukur dan M. Nasuha rajin membantu serangan sehingga mereka lupa kembali bertahan. Babak pertama Malaysia memanfaatkan itu dengan baik, namun sayangnya stamina dan konsentrasi pemain kita masih bagus sehingga masih cukup untuk bertahan.Sesekali disambi dari serangan dari tengah melalui tendangan langsung.

Babak kedua, pemain kita mulai terlihat kehilangan stamina dan konsentrasi. Anda bisa lihat sendiri ketika kita melawan Uruguay waktu itu, babak pertama kita bagus bukan tapi tidak untuk babak kedua. Malaysia memanfaatkan ini dengan baik dan tahu bahwa sayap kita mulai kehabisan nafas. Coba anda lihat berapa kali Okto dan Ridwan terlambat membantu pertahanan? dan disitulah Indonesia mulai hancur, tusukan sayap Malaysia begitu mudahnya masuk ke pertahanan kita. Saya lihat bagaimana mungkin seorang bek kanan Malaysia menerobos ke tengah begitu saja tanpa pengawalan bek sayap kita dan terakhir gol dari Safee sepertinya memberikan validitas bahwa sayap kita rapuh babak kedua.


dari Taktik

Saya tidak melihat perubahan yang menonjol dari kita melawan Filipina bahkan mulai dari Thailand. Serangan kita monoton dari sayap. Firman Utina tidak terlihat lagi seperti dirijen lapangan, yang saya lihat Firman hanya melepaskan umpan jauh, berharap Gonzales membuka ruang untuk gol. Taktik kita terlalu monoton dan basi, Anda bisa lihat sendiri waktu kita menang melawan Malaysia dan Laos, serangan Indonesia berasal dari mana-mana. Entah dari sayap, tengah atau Striker itu sendiri yang berani bertarung.

Firman Utina tidak terlihat pengatur serangan. Mungkin maksud Alfred Riedl, dia akan seperti Xavi di Barcelona yang mampu mengatur bola ke arah kanan, kiri atau terobosan langsung ke lapangan. Melawan Malaysia, gap antara Striker dan lini tengah sangat jauh. Gelandang kita bermain terlalu dalam membantu pertahanan dan walhasil serangan kita dominan di sayap kan? Gonzales tidak mungkin mengambil bola dari tengah, striker seperti dia cocok sebagai Target Man bukan sebagai open striker. Yongki terlalu menunggu bola, dan ini salahnya striker kita menunggu dari sayap.

Anda merasakan sendiri bukan? Adakah anda lihat perubahan taktik yang menonjol dalam laga-laga AFF? semenjak menang dari Thailand, Indonesia menang bukan karena teknik dan taktik tapi karena kesalahan pemain lawan sama halnya ketika melawan Filipina. Gol leg ke dua Indonesia yang dicetak Gonzales, lahir karena keberuntungan kakinya. Terakhir kita belum terbiasa melawan lawan yang menerapkan strategi grendel pertahanan lawan. Filipina melakukan itu dengan baik, dengan terlepas postur pemain mereka, Filipina tahu kalau Indonesia bakalan lemah dilawan strategi catenaccio Italia alias grendel bek.

dari Mental

ini yang saya soroti, berapa kali kita bermain di luar kandang dalam piala AFF? 0 kan? itulah perbedaan kita dengan Malaysia. Mereka sudah 2x bermain dihadapan ribuan pendukung Indonesia dan Vietnam, secara mental mereka lebih baik. Karena kita terbiasa bermain di Liga Indonesia, yang saya yakini kalah di kandang lawan adalah hal yang biasa. Ini jeleknya liga kita, kalau anda lihat Liga Indonesia ketika pemain lawan tertinggal, berapa persen semangat yang anda untuk menyusul ketertinggalan itu? saya yakin tidak lebih dari 50%

ya ya ya melawan Malaysia, itulah representasi liga kita. Begitu tertinggal, hanya pemain sub yang terlihat bersemangat lainnya pasti sudah mengalami drop mental dan ketambahan kita tidak merasakan away dalam laga AFF ini, pemain kita ini manja dukungan penonton.Mental kita drop semenjak gol pertama Malaysia, see gol-gol berikutnya Malaysia tercapai dalam kurang dari 10 menit. Gampang rapuhnya itu yang membuat kita seperti Garuda yang habis kena peluru karet dari ketapel.

dari segi pemberitaan media

Media kita terlalu berlebihan memberitakan timnas kita. Menang tipis atas Filipina dibesarkan luar biasa, layaknya kita timnas sebagai pahlawan. Padahal harusnya secara historis timnas kita menang besar, pemberitaan media timnas kita tidak obyektif, banyak diberitakan bombastis bukan mengevaluasi apa saja yang kurang dari timnas kita.Irfan Bachdim dan C. Gonzales terlalu dibesar-besarkan dan layaknya sudah menjadi selebritas. Timnas kita seperti timnas Inggris, pemainnya bayarannya mahal di Liga tapi nggak ada baunya di timnas.

Saya bukan termasuk antipati terhadap pemberitaan media, tapi menurut saya dengan pemberitaan media yang terlalu bombastis, beban mereka jauh lebih berat. Ekspetasi dari penduduk Indonesia menuntut lebih karena penduduk Indonesia meyakini “seharusnya kita lebih baik dengan pemain naturalisasi”, padahal mestinya tidak begitu. Pemain naturalisasi kalau main di Liga Indo ya sama saja. Secara teknik, mgkin sedikit lebih baik tapi saya meyakini ketenangan dan mental mereka ya sama saja dengan pemain Liga Indonesia.

terus terang, saya sangat berharap Alfred Riedl mengubah pola permainan timnas melawan Indonesia tadi. Menurut saya Indonesia harusnya bermain dengan strategi 4-5-1. Yang saya tahu pelatih yang baik membaca strategi lawan adalah Sir Alex Ferguson. Menimbun di lini tengah, untuk mengurangi dominiasi kreativitas lini tengah lawan dan sekaligus menjaga keseimbangan permainan tim adalah salah satu strategi yang cocok bermain di kandang lawan. Dengan strategi ini, gap lini tengah dan depan tetap terjaga sembari memainkan ball posession di lini tengah.

Kedepan, saya ingin melihat perubahan frontal melawan malaysia di SUGBK. sekalian bermain dengan 4-3-3 mungkin cocok karena secara kita sudah tertinggal. Buat apa kalau 4-4-2 kalau sudah tertinggal dan lawan sudah membaca strategi kita? Tanpa Okto di leg kedua, sejujurnya juga membuat makin pesimis karena di timnas kita siapa lagi yang jago lari selain dia? Tapi saya harap Alfred Riedl yang lebih tahu dari saya, berharap membuat perubahan besar khususnya di lini tengah dan belakang yang menjadi perhatian.

Salam Hangat,

Advertisements

3 responses to “Alasan kenapa Indonesia kalah

  1. Pingback: hanya sekedar tulisan lain tentang timnas Indonesia … | ~ tempat sampahnya noval ~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s