Other Side of Gumarang’s Train

Baru saja saya berada pada Pekan Produk Kreatif Indonesia yang diselenggarakan oleh Kementrian Koordinator Kesra. 2 hari saya dan rekan-rekan NusantaraView menjaga stan pameran kepunyaan ITS yang ada pada JCC. Jumat (26-6-2009), Saya dan rekan-rekan ingin pulang ke Surabaya dengan menunggangi Kereta Api Gumarang jurusan Surabaya. Bermodal hanya tiket kelas Bisnis jadilah kami naik kereta tersebut.

Sebelumnya kami harus berjalan kaki dari JCC, sampe Halte Busway Polda Metro, wew ada 1,5 kilo kami berjalan dan pada hari itu kami harus ketambahan lagi sesaknya busway dan mengakibatkan kami harus dibagai pada 3 kloter busway karena saking penuhnya bus tersebut. Tujuan kami ialah Stasiun Kota Jakarta dan tiba pada pukul 17.00 Sebelum berangkat kami (pada kereta) mengisi amunisi pada salah satu minimarket di stasiun tersebut dan simsalabim jadilah 1 keranjang penuh jajan untuk pulang ke rumah.

Kereta berangkat 17.45, dan untuk kelas bisnis dimana kursi kelas Ekonomi terawat + kipas angin di atas lorong kami berangkat. Awalnya kami merasa nyaman untuk kelas Bisnis ini, meskipun kami tidak boleh terpejam tidur karena harus menjaga laptop kami masing-masing.

Sesampainya pada salah satu stasiun di Jakarta Gambir, Penumpang mulai bertambah dan pada salah satu stasiun kecil di Jakarta, banyak penumpang masuk lagi dan hebatnya para penumpang tidak duduk melainkan berdiri.

Saya lantas berpikir, lho ini katanya kelas bisnis tapi kq ada penumpang tidak dapat tempat ? Aneh ini tapi saya tetap berpikiran positif, mereka mungkin mencari tempat duduk terlebih dahulu. Kedua herannya, mereka tidak membawa apa-apa hanya koran + botol minum. Saya dan teman-teman langsung siaga menjaga barang. *padahal niatnya uda mau tidur dulu ini* Hebatnya lagi ada yang langsung rokok’an di dalam gerbong kereta. What the Hell in this train ?!!

Hebatnya ketambahan lagi koran yang mereka bawa, langsung buat alas untuk tidur dan tidurnya pun di jalan tengah di dalam gerbong kereta. Huebat manusia-manusia Jakarta,, ckckck.. dan ini poto-poto di bawah bukti kejayaan mereka menguasai Gumarang.

Saya dan rekan-rekan tidak menyangka begitu tipisnya perbedaan antara kelas bisnis dengan ekonomi. Yang membedakan hanya kipas angin tergantung pada gerbong di atas. Satu hal yang membuat saya marah dengan kelas ini, penumpang yang tidur pada jalan gerbong kelas bisnis ini hanya cukup membayar seikhlasnya saja antara 5000-20000 dan kami HARUS membayar 150.000 sekali jalan, keadaan ini terjadi ketika petugas tiket datang. Penumpang ilegal langsung memberikan ke tangannya dan saya melihat hanya 5000 rupiah yang dikasihkan dan bisa jadi tidak membayar kalau penumpang tersebut bilang “saya duduk pak” dan anda pulang ke Surabaya dengan gratis.

Saya betul-betul merasa ketidaknyamanan ini karena saya membayar 30x lipat dan saya tidak mendapat kenyamanan yang saya mestinya dapat. Cukup sudah pengalaman buruk saya dengan kereta Gumarang ini dan tidak ingin mengulanginya lagi.

Saya berharap PT KAI, betul-betul memperhatikan ketidaknyamanan ini dan berharap bisa membedakan mana kelas bisnis dan mana ekonomi.

Regards,
Angga Rajasa

Advertisements

9 responses to “Other Side of Gumarang’s Train

  1. wkwkwkwkkw..suwun jeh atas informasinya.Aku gak sido golek gumarang ae wes..anyway aku dodolan PERTAMAX…..:p

  2. Meski tidak nyaman, tapi Kereta api Gumarang tetap dalam hatiku selamanya!!! Ku ingin selamanya bersama Kereta api Gumarang!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s